Menerapkan Matriks Eisenhower untuk Pengendalian Inflasi Sultra
Rangkuman otomatis · disusun dengan AI

Inflasi tahunan Sulawesi Tenggara (Sultra) pada Agustus 2026 mencapai 3,35%, sedikit di atas rata-rata nasional sebesar 3,19%, namun masih dalam rentang target. Di Sultra, inflasi volatile food didominasi oleh kelompok ikan segar, mencerminkan ketergantungan pada dinamika harga ikan tangkapan. Pemerintah Daerah melalui Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) kesulitan mengontrol ratusan komoditas sekaligus, sehingga perlu pendekatan prioritaskan intervensi. Untuk itu, TPID menggunakan Matriks Eisenhower untuk mengelompokkan komoditas berdasarkan kepentingan (andil inflasi) dan kegentingan (volatilitas harga). Hasil pemetaan Januari–Agustus 2026 menunjukkan Kuadran I (genting dan penting) didominasi ikan segar seperti ikan layang, cakalang, dan selar. Kuadran II (penting, kurang genting) mencakup beras dan ikan kembung. Kuadran III (genting, kurang penting) meliputi udang basah dan bayam, sementara Kuadran IV (kurang genting dan kurang penting) berisi ikan katamba, ayam ras, dan apel. Pendekatan ini membantu TPID menentukan strategi yang tepat, seperti Gerakan Pasar Murah untuk Kuadran I, optimalisasi pasokan beras untuk Kuadran II, hingga pemantauan rutin untuk Kuadran III dan IV.
Bagikan
Berita terkait
Purbaya Bongkar Cara APBN Tahan Harga BBM saat Minyak Melonjak
Liputan6.com · 3 September 2026 pukul 19.00
Bank Mandiri Naikkan Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi RI 2026 di Atas 5,34 Persen
kumparan · 3 September 2026 pukul 18.36
Sun Life Perkuat Layanan Nasabah lewat Kantor Pemasaran Baru
SINDOnews · 3 September 2026 pukul 18.27
Kepala BPS Minta Tambahan Anggaran Rp 1,4 T, Buat Apa?
CNBC Indonesia · 3 September 2026 pukul 18.25