Jakarta · Selasa, 18 Agustus 2026Cari
WargaKonoha

Menggagas Nasionalisme Berbasis Iman

Peringatan Hari Ulang Tahun ke-81 Republik Indonesia mengusung tema "Indonesia Berdaulat, Adil, dan Makmur" yang menekankan kemerdekaan sebagai amanat berkelanjutan, bukan garis akhir. Tantangan pasca-kemerdekaan beralih dari kolonialisme ke pemeliharaan persatuan dalam keanekaragaman, penegakan keadilan sosial, dan pembangunan yang memuliakan martabat warga negara. Di tengah dinamika pluralitas, bangsa Indonesia membutuhkan fondasi moral yang kokoh di samping kebijakan publik yang tepat.

Warisan Mgr. Albertus Soegijapranata menjadi referensi kunci melalui semboyan "100% Katolik, 100% Indonesia" yang menegaskan kesetiaan kepada iman dan bangsa saling melengkapi. Konsep nasionalisme berbasis iman dikembangkan sebagai sikap kebangsaan yang mengedepankan nilai-nilai agama sebagai sumber tanggung jawab bersama, bukan alat pembatasan. Pemikiran filsuf Emmanuel Levinas dan Jürgen Habermas mendukung gagasan ini dengan menekankan etika tanggung jawab dan partisipasi agama dalam ruang publik yang inklusif.

Kontribusi pemikiran Martha Nussbaum menambah dimensi empati dan imajinasi moral sebagai fondasi demokrasi yang bertahan. Nasionalisme berbasis iman tidak mengusung agenda negara agama atau politisasi agama, melainkan menjadikan keimanan sebagai pendorong integritas, solidaritas, dan pengabdian kepada kemanusiaan. Pada usia ke-81, semboyan Soegijapranata diperluas menjadi etika kebangsaan bagi seluruh warga Indonesia, di mana semakin religius seseorang, semakin besar tanggung jawabnya terhadap bangsa dan kemanusiaan.

Berita terkait