Menggerakkan Mesin Teknokratis NU
Rangkuman otomatis · disusun dengan AI

NU tidak mengalami krisis anggota atau legitimasi, dengan 57,2% populasi muslim Indonesia (sekitar 145 juta orang) mengidentifikasi diri sebagai Nahdliyin. Survei Alvara Research Center 2025 membuktikan organisasi ini memiliki jaringan luas di seluruh Indonesia. Namun, sebagai jam'iyah, NU dinilai belum optimal dalam menggerakkan agenda strategis nasional dan terkadang terlihat kehabisan napas, sehingga perlu 'mesin baru' untuk mencapai target idealnya.
NU tidak kekurangan warga, tokoh, atau SDM, tetapi kekurangan orkestrasi ekosistem teknokratik. Organisasi ini perlu menggabungkan energi strategis dan teknokratis untuk menjadi instrumen transformasi yang lebih berdampak. Selama satu abad pertama, kekuatan NU bergantung pada modal sosial yang menjaga kestabilan negara. Namun, persaingan global kini tidak lagi ditentukan oleh kuantitas, melainkan kemampuan membangun ekosistem bangsa secara utuh dari hulu ke hilir.
NU perlu mempercepat transformasi dari modal sosial ke modal yang lebih strategis dan teknokratis. Dengan memiliki banyak pemain hebat, organisasi ini harus menciptakan 'simfoni besar' yang menghubungkan semua elemen dalam satu arah pembangunan yang lebih maslahah dan terukur. Langkah ini penting agar NU tetap relevan dan dapat berkontribusi secara optimal dalam menghadapi tantangan modern yang semakin kompleks.
Bagikan
Diberitakan juga oleh
Liputan6.com · 26 Agustus 2026 pukul 07.53
NU, Kekuatan Islam Indonesia
Berita terkait
Pengamat Ungkap Kriteria yang Cocok Pimpin NU: Paham Perubahan-Mampu Eksekusi
kumparan · 18 Agustus 2026 pukul 20.32
Bukan Sekadar Wujud Cinta, Ini Makna Memperbanyak Selawat di Bulan Maulid Nabi
SINDOnews · 26 Agustus 2026 pukul 09.07
Kinerja BUMN Meningkat, Prabowo Kembali Ungkap Rencana Pemberian Bintang untuk Pimpinan Danantara
Warta Ekonomi · 26 Agustus 2026 pukul 09.02
Said Abdullah Sebut NU Sebagai Kekuatan Islam Indonesia
CNN Indonesia · 26 Agustus 2026 pukul 09.01