Nadia Murad, Eks Budak Seks ISIS Sulit Cari Keadilan Meski Sudah 12 Tahun Berlalu
Rangkuman otomatis · disusun dengan AI

Sudah 12 tahun setelah milisi Islamic State (ISIS) melakukan genosida terhadap komunitas Yazidi di Irak, pemenang Hadiah Nobel Perdamaian Nadia Murad Basee mengatakan keadilan masih sangat sulit dicapai. Pada tahun 2014, para milisi ISIS merebut sebagian wilayah Irak dan Suriah, termasuk tanah leluhur Yazidi di Sinjar, tempat ribuan pria dibunuh dan perempuan serta anak perempuan dijadikan budak seks. PBB mengonfirmasi bahwa tindakan ini merupakan genosida terhadap minoritas agama berbahasa Kurdi.
Murad, yang pernah menjadi korban perbudakan seksual oleh ISIS dan kini menjadi advokat bagi para penyintas Yazidi, menyampaikan hal ini dalam konferensi pers di Jenewa pada 31 Juli 2026. Ia menekankan bahwa setelah selamat, banyak korban memutuskan untuk menggunakan suara mereka guna memperjuangkan keadilan. Namun, hingga saat ini, banyak yang masih memiliki anggota keluarga yang ditawan, dan orang-orang terkasih yang terbunuh belum diidentifikasi serta dikembalikan kepada keluarga.
Bagikan
Berita terkait
Hanum Rais Sentil Rumitnya Penyetaraan Ijazah Luar Negeri untuk Rakyat, Tapi untuk Fufufafa Sekedip Mata Langsung Beres
Warta Ekonomi · 28 September 2026 pukul 20.00
Mahasiswa Pelayaran di Aceh Tewas saat Ospek, Ibu Minta Keadilan
kumparan · 28 September 2026 pukul 18.16
Pakar Hukum Minta RUU Perampasan Aset Tak Jadi Alat Politik
kumparan · 28 September 2026 pukul 17.08
Menkeu Israel Serukan Perang di Tepi Barat, Otoritas Palestina Marah Besar
SINDOnews · 27 September 2026 pukul 21.35