Jakarta · Selasa, 25 Agustus 2026Cari
WargaKonoha

Napi di Garut: 'Kalapas Rasa Sahabat' Cikal Bakal Lahirnya Paskopi

Amir (48), narapidana kasus TPPO, menjadi pelopor merek kopi kemasan Paskopi di Lapas Kelas IIA Garut bersama dukungan Kalapas Rusdedy. Awalnya hanya eksportir kopi, Amir belajar lengkap dari pengolahan biji hingga pembuatan racikan kopi. Dengan bahan kopi robusta asal Garut, Paskopi awalnya menjual sekitar 1.500 saset per minggu di kantin lapas. Produksi mengalami kendala mesin pengemas rusak, namun diperbaiki secara daring dengan bantuan video call teknisi dari Yogyakarta dan onderdil dari kantong pribadi Rusdedy. Saat ini penjualan mencapai sekitar 500 saset per bulan di kantin lapas dan 400-500 saset di Rutan Garut, dengan mulai muncul pembeli eksternal. Amir juga mengembangkan varian seperti ice coffee beer, kopi stamina dengan rempah, dan coconut coffee latte. Setelah bebas, ia berencana membuka gerai dan membuka lapangan kerja untuk napi lain yang pernah belajar di dapur Paskopi.

Rusdedy, Kalapas Garut yang sudah 26 tahun di bidang pemasyarakatan, dikenal mendukung kemandirian napi melalui berbagai program UMKM. Sebelumnya di Lapas Narkotika Jakarta, ia mengembangkan kegiatan konveksi dan sablon. Di Lapas Kelas IIB Boalemo, produksi mebel dan kaligrafi pernah mendapat penghargaan dari Ditjen Pemasyarakatan pada 2012-2013. Di Pohuwato, produk olahan sabut kelapa berhasil diekspor ke Wuhan, Tiongkok pada 2017. Di Kendal, ia mengelola lahan 17,5 hektare dengan konsep pertanian terpadu (integrated farming) meliputi peternakan dan pertanian, dengan prinsip zero waste. Rusdedy juga pernah mengajarkan 40 orang (20 pegawai dan 20 napi) untuk kuliah melalui beasiswa pemerintah daerah.

Berita terkait