Negara di Tepi Jurang Krisis, Investor Berpesta-Rakyat Masih Merana
Rangkuman otomatis · disusun dengan AI

Reformasi ekonomi Presiden Nigeria Bola Tinubu—penghapusan subsidi BBM, devaluasi naira, dan pemangkasan subsidi listrik—mendorong optimisme investor namun memperburuk hidup warga biasa. Bursa saham Nigeria naik hampir 60% sepanjang tahun, arus modal masuk mencapai US$23 miliar (tertinggi dalam enam tahun), dan kilang Dangote berkapasitas 650.000 barel per hari telah beroperasi sejak 2024. Investor menyebut ini periode paling positif dalam dua dekade terakhir.
Namun dampak sosialnya parah. Biaya beras jollof melonjak dua kali lipat, harga BBM naik enam kali lipat, dan Bank Dunia mencatat lebih dari separuh penduduk Nigeria hidup dalam kemiskinan (naik dari 42% pada 2022). Seorang pekerja LSM berpenghasilan 135.000 naira (US$99) per bulan mengaku gajinya hanya bertahan seminggu. Suku bunga acuan bank sentral 26,5%, inflasi mendekati 16%, dan kurang dari 5% warga dewasa berinvestasi di pasar modal. Survei menunjukkan 80% warga menilai negara bergerak ke arah salah. Menteri Keuangan Taiwo Oyedele memperingatkan ketimpangan yang melebar ibarat "duduk di atas tumpukan mesiu" yang suatu saat bisa meledak.
Bagikan
Berita terkait
Data Center AI Menjamur, Listrik-Air Mahal, Orang Kaya Borong Pesawat
CNBC Indonesia · 1 Oktober 2026 pukul 17.45
Imigrasi Tabanan Ciduk Empat WNA Nigeria, Sembunyi di Kamar Mandi, Dramatis
JPNN.com · 29 September 2026 pukul 21.20
Bank Asing Proyeksi Rupiah Bakal Segini di Akhir 2026
CNBC Indonesia · 29 September 2026 pukul 15.50
Cerita Mustapha, Wisudawan UNS Asal Nigeria yang Fasih Berbahasa Jawa
SINDOnews · 28 September 2026 pukul 12.34