Negara Kuat Bukan Lagi yang Punya Minyak-Batu Bara Cs, Tapi Ini..
Rangkuman otomatis · disusun dengan AI

Badan Industri Mineral (BIM) menyatakan tolok ukur kekuatan nasional telah beralih dari kepemilikan komoditas fosil seperti minyak, batu bara, dan gas ke sumber daya logam tanah jarang (LTJ). Deputi Bidang Riset dan Pengembangan Teknologi BIM, Yogi Wibisono Budhi, menekankan bahwa penguasaan teknologi ekstraksi dan pemisahan LTJ kini lebih penting dibandingkan sekadar memiliki cadangan mineral yang melimpah. Pergeseran ini sejalan dengan tren global menuju teknologi rendah karbon dan transisi energi.
Kebutuhan akan mineral LTJ melonjak drastis akibat percepatan transisi energi global. Menurut International Energy Agency (IEA), kebutuhan mineral untuk kendaraan listrik meningkat hingga enam kali lipat, sementara untuk pembangkit listrik tenaga angin darat mencapai sembilan kali lipat dibandingkan sistem berbasis gas. Unsur seperti neodymium, praseodymium, dysprosium, terbium, dan yttrium menjadi komponen kritis dalam motor kendaraan listrik dan turbin angin.
Indonesia diketahui menyimpan potensi LTJ dari 17 unsur logam tersebar di lebih dari 250 PLTU dan limbah elektronik. Tanpa pengolahan mandiri, ekspor bahan mentah dan impor kembali produk jadi berpotensi menimbulkan kerugian negara hingga ribuan triliun rupiah. BIM berkomitmen mempercepat riset dan pengembangan teknologi pengolahan mineral strategis untuk mewujudkan hilirisasi teknologi yang sejati.
Bagikan
Berita terkait
Ekspor Nikel-Timah Cs Tersandera Kandungan LTJ, BKPM Buka Suara
CNBC Indonesia · 29 Juli 2026 pukul 18.45
RI Simpan Potensi Logam Tanah Jarang, Sucofindo Ambil Peran Identifikasi
Liputan6.com · 29 Juli 2026 pukul 17.12
Bukan Cuma Untuk Kendaraan EV, Logam Tanah Jarang Penting Buat Ini
CNBC Indonesia · 11 September 2026 pukul 11.15
250 PLTU RI Berpotensi Simpan 'Harta Karun' Masa Depan Dunia
CNBC Indonesia · 11 September 2026 pukul 09.00