Jakarta · Senin, 17 Agustus 2026Cari
WargaKonoha

Nur Syakira, guru Sekolah Tapal Batas yang melampaui ruang kelas

Nur Syakira adalah guru honorer di Sekolah Tapal Batas Darul Furqan, Sebatik Tengah, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Timur. Dua tahun lalu ia pindah dari Bone, Sulawesi Selatan, ke Pulau Sebatik dan kini tinggal di asrama sekolah, merawat 16 anak pekerja migran Indonesia yang dititipkan di sana. Rutinitasnya dimulai sebelum fajar: memasak nasi dan lauk sederhana untuk anak-anak, membangunkan mereka, memandikan, mengenakan seragam, menyisir rambut, lalu menyiapkan sarapan. Setelah anak-anak siap, ia mengurus kebutuhan pribadi, termasuk memandikan putranya yang berusia dua tahun, sementara suaminya bekerja sebagai buruh bangunan di Desa Aji Kuning. Sepulang sekolah, ia terus mendampingi anak-anak: makan siang, istirahat, mengajar mengaji, murojaah selepas Maghrib, dan menemani belajar malam. Di sela kesibukan, ia juga mencuci pakaian, merapikan tempat tidur, dan memenuhi kebutuhan harian anak-anak. Sekolah ini terletak di perbatasan darat Indonesia‑Malaysia, di tengah perkebunan sawit, dan berfungsi sebagai pusat pendidikan bagi masyarakat setempat, terutama anak-anak pekerja migran. Fasilitasnya mencakup lima bangunan: dua ruang kelas untuk grades 1‑6, ruang guru, asrama putra dan putri terpisah, serta sebuah gedung kayu asli. Pengelolaan asrama awalnya dipimpin oleh pendiri sekolah, Suraidah (Ummi), dan kini berada di bawah Kementerian Agama setelah masa pensiunnya.

Berita terkait