Jakarta · Kamis, 3 September 2026Cari
WargaKonoha

Pakar Sebut Perencanaan Matang Jadi Kunci Efektivitas Penggunaan Insinerator Modern di Proyek PSEL

Pemilihan teknologi waste-to-energy (WTE) seperti insinerasi dan gasifikasi perlu disesuaikan dengan karakteristik sampah dan kesiapan semburan pengelolaan sampah di setiap daerah. Menurut pakar UGM Nur Azizah, penerapan WTE tidak hanya fokus pada pembangunan fasilitas, tetapi harus terintegrasi dengan sistem pengelolaan sampah dari hulu hingga hilir. Fasilitas Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) Bekasi yang dikembangkan kolaborasi Danantara Indonesia dan pemerintah, direncanakan memiliki kapasitas 1.500 ton/hari dengan teknologi moving grate incinerator dan APCS, target operasional pertengahan 2028 dengan investasi Rp3 triliun.

Karakteristik sampah perkotaan Indonesia yang meng meng mengandung bahan organik dan kadar air tinggi berbeda dengan sampah di negara Eropa yang lebih kering, sehingga memengaruhi efisiensi pembakaran insinerator. Sampah basah meningkatkan kebutuhan energi untuk pemeliharaan suhu pembakaran dan berisiko pada emisi. Oleh karena itu, perencanaan teknis matang diperlukan mulai dari pemetaan karakter sampah, pre-treatment, hingga sistem pengendalian emisi.

Nur menekankan pentingnya transfer teknologi, ketersediaan teknisi, dan suku cadang agar fasilitas dapat dikelola mandiri. Kontinuitas pasokan sampah juga krusial karena fasilitas membutuhkan volume tetap untuk operasional optimal. Pengendalian emisi harus didukung laboratorium pengujian dan transparansi data. WTE tidak boleh mengganti prioritas pengurangan sampah sesuai UU No. 18/2008, melainkan menjadi solusi akhir setelah upaya reduce, reuse, recycle dilakukan. Rencana tiga lapis waktu dilakukan: jangka pendek WTE mengatasi tekanan volume, jangka menengah memperkuat pengelolaan sampah, dan jangka panjang fokus pada pengurangan timbulan dan perilaku konsumen.

Diberitakan juga oleh


Berita terkait