Pembelajaran Lapangan: Mengubah Inspirasi Menjadi Inovasi Desa Wisata
Rangkuman otomatis · disusun dengan AI

Artikel ini menjelaskan pentingnya pembelajaran lapangan dalam mengembangkan desa wisata. Potensi alam seperti hutan bambu, persawahan, dan budaya tidak saja menjadi modal desa wisata, tetapi membutuhkan tata kelola yang baik, pelayanan profesional, dan keterlibatan masyarakat. Kesenjangan antara pengetahuan yang diperoleh di kelas dengan penerapan nyata dapat dijembatani melalui experiential learning atau pembelajaran berbasis pengalaman. Pembelajaran lapangan memungkinkan peserta untuk melihat, merasakan, dan merrefleksikan praktik pengelolaan destinasi secara langsung. Hasilnya, pengetahuan tacit seperti cara menghadapi keluhan wisatawan atau mengatur pembagian pendapatan dapat lebih mudah ditransfer. Penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran harus dibangun sebagai ekosistem yang terstruktur dengan interaksi antarpeserta, refleksi, dan pendampingan berkelanjutan. Contohnya, Desa Belik, Mojokerto, telah mengadopsi pembelajaran lapangan bertahap selama tiga tahun, mulai dari penguatan tata kelola hingga penciptaan produk wisata unik seperti pencak silat dan bantengan. Lokasi seperti Desa Penglipuran, Bali, juga menjadi contoh yang baik karena menunjukkan integrasi antara kelembagaan, budaya, dan pelayanan. Dengan demikian, pembelajaran lapangan bukan sekadar mengumpulkan foto, tetapi merupakan proses analisis dan penerapan solusi nyata untuk pengembangan desa wisata.
Bagikan
Berita terkait
Belajar ke Bali Bareng Ubaya, Desa Belik Mojokerto Bawa Pulang Bekal Kreativitas
SINDOnews · 5 Agustus 2026 pukul 13.09
Legislator Gerindra Dorong Desa Wisata Mandiri Tetap Dapat Dukungan Pemerintah
Detik.com · 12 September 2026 pukul 12.55
Mendes Sarankan Petani Kopi di Megamendung untuk Revitalisasi Tanaman
Detik.com · 11 September 2026 pukul 15.37
Ekowisata Kepulauan Seribu Jadi Contoh, Pariwisata Nasional Didorong Makin Berkelanjutan
Media Indonesia · 1 September 2026 pukul 20.35