Pembinaan Catur Butuh Ekosistem Berkelanjutan
Rangkuman otomatis · disusun dengan AI

Pembinaan pecatur muda Indonesia perlu didukung oleh ekosistem yang berkelanjutan, melibatkan dunia usaha, pendidikan, keluarga, pelatih, dan kompetisi internasional. Diskusi dalam Japfa Chess Festival 2026 menekankan pentingnya koordinasi antar stakeholder agar bakat lokal dapat dikembangkan secara konsisten. Dewan Pembina PB Percasi Eka Putra Wirya menyatakan Indonesia memiliki potensi besar untuk melahirkan juara dunia jika pembinaan dilakukan secara berkelanjutan dan terstruktur.
Dukungan dari Japfa melalui program seperti Japfa for Kids telah menjadi tulang punggung pengembangan bakat, dengan 17.000 anak dari 10 lokasi ikut serta pada tahun ini. Program ini tidak hanya fokus pada kemampuan bermain catur, tetapi juga nutrisi, etika, penampilan, dan kemampuan beradaptasi. WGM Medina Warda Aulia menekankan pentingnya konsistensi dalam latihan, pertandingan, dan evaluasi sebagai fondasi pengembangan performa.
Turnamen Japfa FIDE Rated 2026 diikuti 504 peserta dari 26 provinsi dan beberapa negara seperti Kazakhstan, Jepang, dan Filipina. Pada kategori open, IM Anjas Novita memimpin klasemen dengan 6 poin. Di putaran akhir, IM Satria Duta Cahaya berhasil membalikkan ketinggalan melawan IM Khuong Duy Dau, sementara WIM Laysa Latifah kesulitan melawan WGM Xeniya Balabayeva dari Kazakhstan.
Bagikan
Berita terkait
IM Duta dan WIM Laysa Kehilangan Poin di Babak Kedua
Media Indonesia · 2 September 2026 pukul 21.48
Pecatur Indonesia Hadapi Vietnam dan Kazakstan di Japfa Chess Festival 2026
Media Indonesia · 1 September 2026 pukul 20.14
Pram Tegaskan Pengguna BPJS Tetap Gratis Berobat di RS Milik Pemprov-Puskesmas
kumparan · 4 September 2026 pukul 23.42
Kejagung Sita Rolex-Innova Zenix Eks Kepala BGN Dadan Hindayana
kumparan · 4 September 2026 pukul 23.40