Jakarta · Kamis, 1 Oktober 2026Cari
WargaKonoha

Pengamat: China Jadikan Perang Saudara Myanmar Laboratorium Uji Coba Senjata

China semakin agresif menjadi eksportir senjata global, dengan ambisi strategisnya tercermin dalam perang saudara Myanmar sejak kudeta militer pada 2021. Pengamat geopolitik Linn Maung menyatakan bahwa ketidakstabilan politik dan sanksi Barat membuat militer Myanmar (SAC) bergantung sepenuhnya pada pasokan senjata dari Beijing, termasuk drone, artileri, kendaraan lapis baja, dan senjaku ringan. Namun, kualitas alutsista tersebut sering gagal di medan tempur, seperti drone yang jatuh, tank yang rusak, dan amunisi yang tidak meledak. Militer Myanmar tidak memiliki alternatif lain karena terisolasi dari produsen senjata Barat.

Strategi China melampaui penjualan resmi antar-pemerintah. Perusahaan swasta China, banyak yang dimiliki oleh anggota Partai Komunis China (PKC), juga menyuplai senjata kepada milisi etnis dan kelompok revolusioner yang menentang junta militer. Hal ini menjadikan Myanmar sebagai laboratorium uji coba industri pertahanan China, di mana kegagalan teknis dievaluasi dengan mengorbankan kedaulatan negara.

Linn menekankan bahwa setiap kegagalan teknis yang terjadi di medan perang Myanmar menjadi pelajaran berharga bagi industri pertahanan China untuk menyempurnakan teknologi dan strategi militernya di kemudian hari.

Berita terkait