Potret Warga Gaza Bekerja dari Tenda Pengungsian
Rangkuman otomatis · disusun dengan AI

Perang menghancurkan Gaza dan meninggalkan tingkat pengangguran di atas 80%, meningkat tajam dari sekitar 22% sebelum konflik. Sebagian besar dari dua juta penduduknya bergantung pada bantuan kemanusiaan. Di tengah keterbatasan itu, semakin banyak warga Gaza beralih ke ekonomi digital dengan bekerja daring untuk klien luar negeri sebagai salah satu dari sedikit cara untuk bertahan hidup. Contohnya Walaa Volidis, insinyur perangkat lunak berusia 24 tahun yang tinggal di tenda, tetap mengikuti pelatihan AI dan akhirnya mendapat pekerjaan penuh waktu di Dubai.
Mercy Corps mendukung sejumlah ruang kerja bersama di Gaza yang menggunakan generator dan panel surya untuk akses internet dan listrik. Ini penting karena sistem kelistrikan hampir lumpuh total dan sekitar 75% jaringan telekomunikasi rusak. Pekerja seperti Tarik Zaeem, pemrogram lepas, kesulitan menerima bayaran karena bank yang beroperasi sedikit, uang tunai langka, dan warga Gaza tidak bisa mendaftar di sebagian besar platform pembayaran digital. Akibatnya, ia sering hanya menerima sekitar setengah dari nilai pembayaran.
Risiko perang masih mengancam. Setidaknya 1.250 orang, termasuk 265 anak-anak, tewas sejak gencatan senjata Oktober, menurut Kementerian Kesehatan Gaza. Impor komputer dibatasi karena dianggap barang penggunaan ganda. Meski sulit, para pekerja teknologi tetap bertahan. Mereka menyebut pekerjaan digital sebagai 'penyambung hidup' karena memberi penghasilan dan harapan di tengah kehancuran.
Bagikan
Berita terkait
Dari Dapur ke Pasar Digital, Teknologi Bantu Ibu Rumah Tangga Jadi Bos
CNBC Indonesia · 25 September 2026 pukul 15.00
Dunia Kehilangan Jalan Pulang kepada Perdamaian
SINDOnews · 21 September 2026 pukul 12.56
Wamen Nezar Patria Dorong Aceh Jadi Pusat Ekosistem Teknologi di Selat Malaka
JawaPos · 8 September 2026 pukul 22.45
Kerja Sama Teknologi Indonesia-Tiongkok Makin Erat, AI dan Transfer Teknologi Jadi Fokus
JawaPos · 22 Agustus 2026 pukul 18.47