Problem Kesehatan Mental Masih Besar di Papua Barat, Konselor Sebaya Digiatkan
Rangkuman otomatis · disusun dengan AI

Program konselor sebaya (peer counselor) diluncurkan di Papua Barat untuk menanggapi masalah kesehatan mental remaja yang masih tinggi. Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 dan Indonesia National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS) 2022 menunjukkan 34,9 persen remaja Indonesia mengalami masalah kesehatan mental dalam setahun terakhir, dengan 5,5 persen memenuhi kriteria gangguan mental. Kelompok usia 15-24 tahun termasuk paling rentan, termasuk di wilayah Manokwari, Papua Barat.
Fakultas Psikologi Universitas Airlangga melatih siswa SMP dan SMA di Distrik Prafi dan Aimasi untuk menjadi peer counselor. Pelatihan Training of Trainer (ToT) Penguatan Kesehatan Psikologis for Kader Remaja dilaksanakan di SMAN 1 Prafi dengan peserta dari tiga sekolah: SMAN 1 Prafi, MAN Manokwari, dan SMPN 8 Prafi. Para siswa dilatih mengenai perkembangan psikologis remaja, regulasi emosi, berpikir kritis, dan keterampilan mendengarkan secara empatik.
Program ini bertujuan sebagai upaya promotif kesehatan mental remaja. Para konselor sebaya juga diajarkan mengenali kapan harus mengarahkan teman ke guru Bimbingan dan Konseling (BK) atau tenaga profesional. Langkah ini dilatarbelakangi oleh temuan bahwa remaja lebih nyaman berbagi masalah dengan teman sebaya dibanding guru atau orang tua. Program ini merespons berbagai masalah sosial di kawasan transmigran Papua Barat seperti paparan pornografi, pergaulan bebas, dan peredaran minuman keras.
Bagikan
Berita terkait
Cegah Remaja Depresi hingga Kecanduan Miras, Unair Gagas Siswa Jadi Konselor Sebaya
JawaPos · 21 September 2026 pukul 12.45
Kemenkes Ungkap 186.629 Orang Dewasa dan 34.961 Anak di Indonesia Alami Depresi
SINDOnews · 5 September 2026 pukul 07.30
Ikhtiar Pemkot Memagari Remaja dari Pergaulan Bebas dan Krisis Mental
JPNN.com · 28 Agustus 2026 pukul 15.53
Polling: Apa yang Kamu Lakukan untuk Mengusir Kesepian?
kumparan · 24 Agustus 2026 pukul 15.35