Jakarta · Sabtu, 3 Oktober 2026Cari
WargaKonoha

Pulau Kecil di Timur Indonesia Jadi Harapan Vatikan, Ini Alasannya

Di tengah menyusutnya minat menjadi imam di Eropa dan Amerika Utara, pulau Flores di Nusa Tenggara Timur (NTT) justru menjadi salah satu pemasok utama calon imam Katolik dunia. Pada 2024, sekitar 4.150 seminaris berada di Indonesia, dengan sebagian besar berada di Ledalero, Flores. Sebagai perbandingan, Irlandia hanya memiliki 104 seminaris. Fenomena ini terjadi akibat ketimpangan global di mana jumlah umat Katolik dunia mencapai 1,4 miliar jiwa, namun jumlah imam relatif stagnan di kisaran 400.000. Selama 50 tahun terakhir, jumlah calon imam di Eropa dan Amerika Utara mengalami penurunan signifikan akibat skandal pelecehan anak dan penguatan sekularisme. Kini, sekitar 60% seminaris berasal dari Afrika dan Asia, tempat Katolik masih tumbuh dan profesi imam masih dihormati. Paus Fransiskus pernah menyebutkan sebuah pulau di Indonesia sebagai sumber harapan langka dalam menghasilkan calon imam. Flores dan kantong-katolik serupa tidak hanya melayani keuskupan setempat, tetapi juga dikirim ke berbagai negara seperti Angola hingga Austria. Mereka sering disebut sebagai "misionaris terbalik". Keberadaan para imam muda dari Asia juga memengaruhi dinamika internal Gereja Katolik, terutama terkait hubungan dengan agama lain. Dari sekitar 2 juta penduduk Flores, sekitar 85% beragama Katolik dan lebih dari 10% beragama Islam. Agama Katolik dibawa ke Flores oleh Portugis pada abad ke-16 dan kemudian diperkuat oleh misionaris Societas Verbi Divini (SVD), yang hingga kini mengelola seminari Ledalero. Seminari Ledalero, yang didirikan pada 1937, lebih mirip dengan sebuah universitas kecil ketimbang lembaga religius yang ketat. Para siswa biasanya menempuh sekitar delapan tahun pendidikan, dimulai dengan empat tahun filsafat, diikuti oleh satu hingga dua tahun pelayanan pastoral, dan dua tahun terakhir teologi. Selain itu, para siswa juga mempelajari bahasa Latin, Arab, Jerman, dan Inggris. Namun, tidak semua seminaris akhirnya menjadi imam. Dari 62 seminaris seangkatan Edy Soge, 48 telah dikeluarkan atau mengundurkan diri, sebagian karena ingin hidup bersama pasangan. Para pengajar khawatir Flores mungkin tidak dapat terus menjadi sumber misionaris tak terbatas, mengingat semakin banyak pilihan hidup yang lebih baik dan ancaman sekularisme yang semakin mendekat.

Berita terkait