Quiet Quitting: Mengapa Gen Z Memilih Bekerja Secukupnya di Tengah Tekanan Kerja
Rangkuman otomatis · disusun dengan AI

Quiet quitting adalah fenomena di mana pekerja hadir dan menyelesaikan tugas sesuai kontrak, namun menolak tanggung jawab tambahan di luar kewajiban formal. Harris (2025) menjelaskan bahwa fenomena ini tidak berarti pengunduran diri, melainkan pembatasan kontribusi pada tuntutan yang dianggap wajib. Dilchert et al. (2026) menambahkan bahwa quiet quitting merupakan bentuk psychological withdrawal yang mencakup melemahnya keterlibatan, berkurangnya ikatan sosial, dan penetapan batas antara pekerjaan dan kehidupan pribadi. Magrizos et al. (2026) mengembangkan tipologi empat bentuk quiet quitting: Protesters, Faders, Boundary Setters, dan Indifferent Drifters, yang dibedakan berdasarkan kesengajaan dan motivasi.
Penelitian menunjukkan bahwa faktor psikologis dan lingkungan kerja berperan penting. Gray et al. (2025) menemukan bahwa psychological contract antara pekerja dan organisasi memengaruhi kecenderungan quiet quitting; pelanggaran kontrak psikologis meningkatkan fenomena ini. Zhou et al. (2026) mengaitkan work-family conflict dan job burnout dengan quiet quitting pada 523 dosen vokasional di Tiongkok, meskipun work overload tidak memengaruhi secara langsung. Liu et al. (2026) menunjukkan bahwa illegitimate tasks memicu ego depletion, yang kemudian berkaitan dengan quiet quitting.
Studi khusus pada Gen Z di Indonesia menunjukkan hasil yang bervariasi. Narendra dan A’yuninnisa (2025) menemukan bahwa job flourishing berkaitan dengan penurunan quiet quitting. Putri et al. (2026) justru menemukan bahwa work-life balance justru meningkatkan quiet quitting, sementara meaningful work berperan sebagai faktor protektif. Joe dan Dhanpat (2026) menemukan bahwa motivasi quiet quitting pada Gen Z mencakup ketidaksesuaian nilai, kompensasi yang tidak adil, dan lingkungan kerja toksik. Penelitian ini menekankan bahwa quiet quitting tidak boleh disamakan dengan kemalasan atau ketidakloyalan, melainkan mencerminkan dinamika hubungan psikologis dan kondisi kerja yang kompleks.
Bagikan
Berita terkait
Gaji Besar Bukan Lagi Satu-Satunya Alasan Gen Z Bertahan di Perusahaan
kumparan · 16 Agustus 2026 pukul 04.00
Profesi Clipper Sedang Naik Daun, Gen Z Raup Puluhan Juta dari Potongan Video
JawaPos · 10 September 2026 pukul 22.00
BTN Permudah Gen Z Miliki Rumah hingga Hitung Kemampuan Cicil KPR
kumparan · 10 September 2026 pukul 21.00
Awas Dompet Jebol Berkedok Self-Reward, Peneliti UGM Ungkap Mayoritas Gen Z Lampiaskan Stres ke Makanan
Warta Ekonomi · 10 September 2026 pukul 16.23