Refleksi Kemerdekaan Indonesia ke-81 dari Gen Z: Kebebasan Berpendapat-Bertarung dengan Algoritma
Rangkuman otomatis · disusun dengan AI

Menjelang perayaan HUT Kemerdekaan RI ke-81, Generasi Z yang kini mayoritas telah memasuki usia produktif dan bekerja membagikan refleksi tentang makna kemerdekaan di Indonesia. Tiga profesi berbeda—mulai dari guru, penjual lokapasar digital yang menghadapi tantangan algoritma serta biaya layanan, hingga wartawan yang mempertanyakan kebebasan berpendapat—memberikan sejumlah catatan kritis terhadap kondisi saat ini.
Salah satu catatan penting datang dari Ahmad Fahrizal Ramadhan (28), seorang guru honorer di sekolah dasar negeri di Kabupaten Bandung. Ia mengapresiasi inovasi pendidikan melalui Kurikulum Merdeka yang memberi kebebasan dalam memilih metode mengajar di luar buku teks dan LKS. Selain itu, fasilitas penunjang seperti akses internet gratis mulai masuk ke sekolah-sekolah, meski pada praktiknya penerapannya belum maksimal karena kendala jaringan yang lambat.
Di sisi lain, tantangan ekonomi dan beban kerja non-mengajar masih menjadi persoalan serius. Gaji sebagai guru honorer dinilai belum mencukupi sehingga menuntut pencarian sumber pendapatan tambahan. Selain itu, tugas administratif yang menumpuk, program PPG, serta ekspektasi orang tua murid membuat kebebasan mengajar belum sepenuhnya dirasakan merdeka.
Bagikan
Berita terkait
Guru Honorer Boleh Memilih menjadi PNS atau PPPK, tetapi Ada Syaratnya
JPNN.com · 24 September 2026 pukul 05.35
Kemendikdasmen bakal buka 139.000 kuota untuk CPNS guru tahun depan
ANTARA News · 23 September 2026 pukul 19.20
Suara Terbaru dari Senayan soal PPPK Paruh Waktu Naik Level, 230 Ribu Tanpa Tes
JPNN.com · 19 September 2026 pukul 05.27
PAN Dukung Sekolah Rakyat: Anak Muda RI Harus Jadi Pelaku Perubahan Dunia
Detik.com · 18 September 2026 pukul 22.39