Saat Anggaran Keluarga Terbatas, Jangan Sampai Protein Anak Ikut Dipangkas
Rangkuman otomatis · disusun dengan AI

Tekanan ekonomi dan kenaikan harga kebutuhan pokok membuat keluarga di Indonesia semakin sulit mengatur anggaran konsumsi sehari-hari. Menurut I Dewa Gede Karma Wisana, Kepala Lembaga Demografi dan dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (FEB UI), tingkat pendapatan masyarakat memengaruhi besarnya alokasi pengeluaran untuk pangan. Pada kelompok kuintil 1 (pendapatan terendah), pengeluaran untuk pangan mencapai 63,2 persen dari pendapatan, sementara pada kuintil 5 (pendapatan tertinggi), porsinya hanya sekitar 40,5 persen. Kondisi ini semakin membebani ketika harga pangan dan biaya hidup lainnya meng mengertas. Berdasarkan data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2024 dan 2025 yang dirilis BPS, pola belanja masyarakat mengalami perubahan. Belanja untuk kebutuhan nonmakanan meningkat sebesar 5,98 persen, sementara tambahan belanja untuk makanan hanya 3,16 persen. Akibatnya, banyak keluarga terpaksa memilih makanan yang lebih sederhana atau murah, berpotensi menurunkan kualitas asupan gizi, terutama bagi anak-anak.
Bagikan
Berita terkait
Baznas Buka Beasiswa Santri 2026 bagi 2.500 Santri Dhuafa Berprestasi
JawaPos · 30 Agustus 2026 pukul 14.30
Muhammadiyah Buka Posko Kesehatan dan Makanan Gratis di Muktamar NU
CNN Indonesia · 30 Agustus 2026 pukul 14.25
Komnas HAM Bentuk Tim Khusus Selidiki Peristiwa Kuda Tuli
Liputan6.com · 30 Agustus 2026 pukul 14.23
Teknologi AI 'Iwak' Pertamina Bantu Persiapan Nelayan Cilacap Melaut
Detik.com · 30 Agustus 2026 pukul 14.21