Jakarta · Minggu, 30 Agustus 2026Cari
WargaKonoha

Saat Anggaran Keluarga Terbatas, Jangan Sampai Protein Anak Ikut Dipangkas

Tekanan ekonomi dan kenaikan harga kebutuhan pokok membuat keluarga di Indonesia semakin sulit mengatur anggaran konsumsi sehari-hari. Menurut I Dewa Gede Karma Wisana, Kepala Lembaga Demografi dan dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (FEB UI), tingkat pendapatan masyarakat memengaruhi besarnya alokasi pengeluaran untuk pangan. Pada kelompok kuintil 1 (pendapatan terendah), pengeluaran untuk pangan mencapai 63,2 persen dari pendapatan, sementara pada kuintil 5 (pendapatan tertinggi), porsinya hanya sekitar 40,5 persen. Kondisi ini semakin membebani ketika harga pangan dan biaya hidup lainnya meng mengertas. Berdasarkan data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2024 dan 2025 yang dirilis BPS, pola belanja masyarakat mengalami perubahan. Belanja untuk kebutuhan nonmakanan meningkat sebesar 5,98 persen, sementara tambahan belanja untuk makanan hanya 3,16 persen. Akibatnya, banyak keluarga terpaksa memilih makanan yang lebih sederhana atau murah, berpotensi menurunkan kualitas asupan gizi, terutama bagi anak-anak.

Berita terkait