Jakarta · Selasa, 25 Agustus 2026Cari
WargaKonoha

Saat Berkah Dihitung Seperti Omzet

Artikel ini mengeksplorasi bagaimana pesantren, yang dulunya menjadi ruang perlawanan terhadap logika pasar, kini terlibat dalam kapitalisme lanjut melalui kemudahan dan tampilan di media sosial. Dengan mengacu pada filsuf Byung-Chul Han tentang 'kekuasaan yang tersenyum', penulis menyoroti pergeseran dari pengawasan eksternal (oleh kiai atau penjaga gerbang) ke pengawasan internal yang dilakukan santri sendiri melalui rasa bersalah dan kepuasan semu. Kepatuhan dulunya lahir dari rasa segan dan cinta kepada ilmu, kini rawan dimanipulasi menjadi alat kontrol psikologis melalui narasi pahala dan ketaatan. Santri modern diasumsikan 'naik kelas' dan 'relevan', padahal justru tidak menyadari dirinya dieksploitasi secara internal. Aktivitas kebaikan seperti mengaji, mengasuh adik, atau bertirakat kini dipaksakan untuk ditampilkan dan dinilai berdasarkan omzet atau jumlah pengikut. Transmisi spiritual yang lambat dan personal direduksi menjadi konten singkat atau sertifikat formal, sehingga esensi ilmu pesantren terpinggirkan. Penulis menegaskan bahwa keberkahan sejati tidak perlu dibuktikan lewat kamera, dan tugas pesantren bukan menolak zaman, tetapi mengembalikan ruang bagi ritual yang tenang dan pengabdian yang tidak butuh pengakuan publik.

Berita terkait