Saat Berkah Dihitung Seperti Omzet
Rangkuman otomatis · disusun dengan AI

Artikel ini mengeksplorasi bagaimana pesantren, yang dulunya menjadi ruang perlawanan terhadap logika pasar, kini terlibat dalam kapitalisme lanjut melalui kemudahan dan tampilan di media sosial. Dengan mengacu pada filsuf Byung-Chul Han tentang 'kekuasaan yang tersenyum', penulis menyoroti pergeseran dari pengawasan eksternal (oleh kiai atau penjaga gerbang) ke pengawasan internal yang dilakukan santri sendiri melalui rasa bersalah dan kepuasan semu. Kepatuhan dulunya lahir dari rasa segan dan cinta kepada ilmu, kini rawan dimanipulasi menjadi alat kontrol psikologis melalui narasi pahala dan ketaatan. Santri modern diasumsikan 'naik kelas' dan 'relevan', padahal justru tidak menyadari dirinya dieksploitasi secara internal. Aktivitas kebaikan seperti mengaji, mengasuh adik, atau bertirakat kini dipaksakan untuk ditampilkan dan dinilai berdasarkan omzet atau jumlah pengikut. Transmisi spiritual yang lambat dan personal direduksi menjadi konten singkat atau sertifikat formal, sehingga esensi ilmu pesantren terpinggirkan. Penulis menegaskan bahwa keberkahan sejati tidak perlu dibuktikan lewat kamera, dan tugas pesantren bukan menolak zaman, tetapi mengembalikan ruang bagi ritual yang tenang dan pengabdian yang tidak butuh pengakuan publik.
Bagikan
Berita terkait
Kata TNI hingga Polri Soal Rencana Demo 27 Agustus 2026
Warta Ekonomi · 25 Agustus 2026 pukul 20.00
Tradisi Maulid Nabi di Pesantren Benda Kerep Cirebon Tanpa Pengeras Suara
Media Indonesia · 25 Agustus 2026 pukul 18.43
Memaknai Kemerdekaan di Tengah Perkembangan Penyiaran dan Jagat Media Sosial
JPNN.com · 25 Agustus 2026 pukul 16.33
Masyarakat Diajak tidak Termakan Hoaks Potongan Video Politik Viral Budi Arie
Media Indonesia · 25 Agustus 2026 pukul 16.01