Jakarta · Senin, 14 September 2026Cari
WargaKonoha

Sederet Upaya RI Bangun "Benteng" Hadapi Krisis Energi

Indonesia berada di peringkat kedua dunia dalam total protection factor terhadap krisis energi global, hanya di bawah Afrika Selatan, menurut laporan Pandora's Bog: The Global Energy Shock of 2026. Pemerintah menggunakan APBN sebagai shock absorber sehingga kenaikan harga minyak global belum langsung diteruskan ke konsumen, dengan harga BBM subsidi seperti Pertalite dan solar masih belum dinaikkan. Sumber energi domestik mendominasi bauran energi primer Indonesia, dengan batu bara 40,37%, minyak bumi 28,82%, gas alam 16,17%, dan energi baru terbarukan 14,65%. Untuk mengurangi ketergantungan impor, pemerintah dan Pertamina melakukan diversifikasi sumber impor minyak mentah, termasuk dari Amerika Serikat dan Rusia. Indonesia berhasil mengamankan 150 juta barel minyak mentah dari Rusia dengan harga khusus melalui kunjungan Presiden Prabowo Subianto ke Moskwa. Komitmen ini diharapkan menjadi cadangan strategis untuk menghadapi gejolak ekonomi global. Pemerintah juga mempercepat program diversifikasi bahan bakar domestik melalui peningkatan campuran biodiesel. Program B40 yang ditingkatkan ke B50 memungkinkan sebagian kebutuhan solar dipenuhi dari minyak sawit dalam negeri. PT Pertamina Patra Niaga menargetkan penyaluran B50 di seluruh SPBU pada September 2026, dengan 82% SPBU Pertamina sudah menyalurkan B50 sejak implementasi dimulai pada 1 Juli 2026.

Berita terkait