Serangan ke Iran Belum Ada Apa-apanya, Trump Lagi 'Ngerem' Tunggu Ini
Rangkuman otomatis · disusun dengan AI

Pemerintah AS, di bawah tekanan Presiden Donald Trump, berupaya menahan eskalasi konflik militer dengan Iran hingga pemilu paruh waktu pada November 2026 untuk menghindari dampak negatif pada elektabilitas Partai Republik. Menurut laporan Reuters, keputusan untuk meningkatkan aksi militer hanya akan diambil setelah pemungutan suara, sementara saat ini fokus pada tekanan ekonomi melalui sanksi dan blokade laut. Strategi ini didorong oleh rendahnya dukungan publik terhadap perang, yang hanya mencapai 31% menurut jajak pendapat Reuters/Ipsos, sementara 63% menolaknya akibat kenaikan harga bensin. Namun, serangan silahturahmi antara AS dan Iran yang kembali terjadi, termasuk serangan di Pulau Larak dan Selat Hormuz, semakin membuktikan kesulitan menjaga kondisi tetap stabil. Para analis, termasuk mantan diplomat AS Barbara Leaf, memperkirakan Iran akan terus menyerang selama bertahan dengan dukungan internal yang kuat dan insentif untuk menghambat tekanan ekonomi AS. Di sisi lain, ancaman militer dari Trump yang tetap, seperti janji akan merespons lebih keras jika Iran tidak membalas, menunjukkan ketegangan yang belum mereda. Kampanye militer AS juga menghadapi keterbatasan logistik, dengan peringatan dari panglima angkatan bersenjata bahwa perpanjangan konflik akan mengurangi kesiapan militer di wilayah lain. Sekutu Teluk dan sejumlah pejabat AS, termasuk JD Vance dan Marco Rubio, mendesak penurunan ketegangan hingga November, meski kebijakan sanksi baru dan isolasi ekonomi menghadapi keterbatasan, terutama dengan penolakan China untuk bergabung dalam upaya tersebut.
Bagikan
Berita terkait
Persib Tidak Boleh Main di Si Jalak Harupat
JPNN.com · 3 September 2026 pukul 10.42
Korban Gempa NTT Bertambah, 40 Orang Meninggal Dunia
VOI · 3 September 2026 pukul 10.40
Nelayan Hilang Saat Melaut di Perairan Areguling Lombok, Tim SAR Lanjutkan Pencarian
JPNN.com · 3 September 2026 pukul 10.40
Lebih Dahsyat dari SKK Migas, Begini Peran Badan Usaha Khusus Migas
CNBC Indonesia · 3 September 2026 pukul 10.40