Serbia, Kandidat yang Menjauh dari Eropa
Rangkuman otomatis · disusun dengan AI

Pemakaman Ratko Mladic, mantan komandan militer Serbia yang dihukum karena genosida, memunculkan kontroversi di Brussel. Mladic dikabarkan dimakamkan dengan penghormatan militer di Beograd, memicu sorotan atas proses keanggotaan Serbia ke Uni Eropa yang tengah terhambat. Mladic dikena hukuman penjara seumur hidup oleh Pengadilan PBB atas kejahatan perang dan genosida Bosnia. Presiden Serbia Aleksandar Vucic tidak hadir dalam perayaan namun memfasilitasi pemakaman tersebut. Respons Uni Eropa sangat kritis. Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen menyebutnya mengejutkan, sementara Presiden Dewan Eropa Antonio Costa mengecam glorifikasi penjahat perang. Komisaris Perluasan Keanggotaan Marta Kos bahkan membatalkan kunjungannya ke Serbia. Menurut pakar dari European Council on Foreign Relations dan Institute for European Affairs Serbia, pemerintahan Vucic gagal menjalankan reformasi selama lima tahun terakhir dan menolak mengikuti sanksi Uni Eropa terhadap Rusia. Standar demokrasi di bawah Vucic merosot, sementara hubungan dengan Kosovo tetap tegang. Organisasi sipil Serbia telah memperingatkan Brussel tentang penurunan kebebasan media, supremasi hukum, dan kerusakan institusi demokrasi. Uni Eropa menekan secara finansial dengan menahan pembayaran Growth Plan untuk Balkan Barat. Pemilu parlemen 25 Oktober 2023 dapat menguji strategi politik Vucic yang ingin tetap mendominasi politik Serbia sebagai Perdana Menteri. Oposisi di Serbia masih rapuh, sehingga sulit bersaing secara demokratis dalam pemilu yang tidak kredibel.
Bagikan
Berita terkait
Pemakaman Mladic Jadi Ujian Politik Jelang Pemilu Serbia
Detik.com · 8 September 2026 pukul 18.49
Siapa Ratko Mladic? Komandan Militer Paling Kejam dan Memimpin Perang yang Menewaskan 100.000 Warga Muslim Bosnia
SINDOnews · 8 September 2026 pukul 09.15
Ribuan Warga Serbia Hadiri Pemakaman Penjahat Perang Ratko Mladic di Beograd
Media Indonesia · 8 September 2026 pukul 05.55
Ironi Jagal Bosnia Pembantai 8.000 Muslim: Mati sebagai Penjahat Perang, tapi Dipuja bak Pahlawan
SINDOnews · 6 September 2026 pukul 11.31