Jakarta · Senin, 17 Agustus 2026Cari
WargaKonoha

Setelah Menonton Dear You: Saya Tidak Menyesal Menjadi Tionghoa

Pada 22 Juni 2026, seorang Associate Professor of International Relations dari President University menulis artikel di Harian Guoji Ribao yang berjudul 'Apakah Surat Cinta untuk Nenek Benar-Benar Propaganda Politik?'. Dua hari kemudian, ia menulis artikel serupa di SINDOnews dengan judul 'Dear You dan Ketakawan yang Salah Arah'. Pada saat itu, film Dear You belum tersedia di Indonesia, yang baru mulai diputar pada 7 Agustus 2026. Beberapa pengamat menuduh film ini sebagai propaganda politik dari Beijing yang bertujuan memperkuat ikatan emosional masyarakat Tionghoa di Asia Tenggara dengan Tiongkok, sekaligus mengkhawatirkan potensi loyalitas politik yang dapat berkembang. Namun, penulis berpendapat bahwa sebuah film tidak serta-merta mengubah kesetiaan politik seseorang, dan identitas diaspora juga dipengaruhi oleh pengalaman hidup sehari-hari, perlakuan negara, dan penerimaan masyarakat.

Setelah menonton Dear You, penulis menyadari ia terlalu fokus pada perdebatan politik sehingga belum memahami jiwa film tersebut. Ia kini tidak ingin membahas apakah film ini propaganda atau bagian dari perebutan pengaruh geopolitik. Sebaliknya, ia ingin memandang film ini sebagai manusia, seorang Tionghoa Indonesia, dan anak dari peradaban panjang. Bagi penulis, Dear You bukan tentang negara yang memanggil kembali diasporanya, tetapi kisah manusia yang mempertahankan cinta, kepercayaan, dan tanggung jawab keluarga di tengah perpisahan panjang.

Film ini menggambarkan surat dan kiriman uang yang menghubungkan para perantau di Asia Tenggara dengan keluarga di Chaoshan sebagai lebih dari sekadar komunikasi atau transaksi ekonomi. Setiap surat mengandung kerinduan, dan setiap kiriman uang mencerminkan kerja keras, pengorbanan, dan tanggung jawab. Pada masa itu, surat membutuhkan waktu lama untuk sampat, tanpa telepon genggam atau pesan instan. Namun, jarak dan ketidakpastian tidak menghalangi kesetiaan. Cinta yang digambarkan tidak selalu menuntut kepemilikan atau bukti, tetapi lebih pada menunggu, menjaga janji, dan berkorban demi kebaikan orang lain.

Berita terkait