Siapa yang Paling Berisiko Terkena Psikosomatis? Kenali Gejala dan Faktor Risikonya
Rangkuman otomatis · disusun dengan AI

Gangguan psikosomatis terjadi ketika tekanan psikologis menyebabkan keluhan fisik nyata, seperti sakit perut, sakit kepala, atau nyeri otot, meskipun tidak ada kerusakan organik. Kondisi ini seringkali tidak disadari oleh penderitanya dan hanya bisa didiagnosis oleh tenaga medis setelah pemeriksaan fisik menyeluruh dilakukan. Faktor stres kronis menyebabkan pelepasan hormon kortisol dan adrenalin yang berlebihan, yang jika terus-menerus dapat merusak sistem imun, meningkatkan peradangan, dan mengganggu fungsi organ tubuh. Beberapa kelompok pengguna berisiko tinggi terhadap psikosomatis, termasuk orang dengan kepribadian tipe A yang kompetitif dan perfeksionis, individu dengan aleksitimia yang kesulitan mengungkapkan emosi, serta mereka yang pernah mengalami trauma di masa lalu. Lingkungan kerja yang menuntut tinggi tanpa dukungan emosional juga menjadi faktor pemicu, terutama bagi tenaga medis, aparat keamanan, dan eksekutif. Selain itu, orang dengan penyakit kronis seperti diabetes atau penyakit jantung juga lebih rentan karena kecemasan akan kondisi kesehatan mereka dapat memperparah gejaya fisil yang ada. Gejala psikosomatis sangat bervariasi, namun pengenalan diri dalam kelompok berisiko dan penanganan yang tepat, baik melalui perubahan gaya hidup maupun bantuan profesional, dapat membantu mengurangi dampak negatifnya. Kesehatan mental dan fisik saling terkait erat, sehingga penting untuk menjaga keseimbangan keduanya agar gejala fisik yang mengganggu dapat mereda seiring perbaikan kesehatan mental.
Bagikan
Berita terkait
Guru Besar IPB Ungkap Penerapan Strict Liability dalam Karhutla
JawaPos · 30 Agustus 2026 pukul 18.46
Bima Arya Ajak DPRD Se-Indonesia Kawal APBD agar Lebih Berdampak
Detik.com · 30 Agustus 2026 pukul 18.39
Pawai Artis Semarakkan HUT Pati ke-703, Limbad Terlihat Dampingi Plt Bupati
SINDOnews · 30 Agustus 2026 pukul 18.37
3.000 Orang Masih Hilang, Tim Pencarian Korban Banjir Nepal Terus Berjuang
SINDOnews · 30 Agustus 2026 pukul 18.35