Sistem Peringatan Dini dan Mitigasi Jadi Kunci Menekan Risiko Bencana Longsor
Rangkuman otomatis · disusun dengan AI

Di tengah ancaman gerakan tanah tinggi yang menyentuh 12 provinsi di Indonesia, para ahli menekankan pentingnya sistem peringatan dini (EWS) yang akurat untuk menurunkan risiko bencana longsor. Sistem ini perlu didukung oleh tata ruang yang tepat dan kesiapsiagaan masyarakat, karena pemantauan cuaca saja tidak cukup efektif. Badan Geologi mencatat 12 wilayah masuk kategori potensi gerakan tanah tinggi, termasuk Aceh, Bengkulu, Sumatera Utara, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Gorontalo, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Utara, Nusa Tenggara Timur, Papua Barat Daya, Papua Tengah, dan Papua Pegunungan. Pemerintah daerah di wilayah tersebut didorong meningkatkan upaya mitigasi, terutama menjelang peralihan musim. Guru Besar Teknik Geologi UGM Wahyu Wilopo menjelaskan bahwa kerentanan longsor dipengaruhi kuatnya oleh faktor topografi seperti daerah pegunungan di Pulau Jawa dan Sumatra, serta kondisi lereng sebelum suatu pemicu terjadi. Dalam penerapan EWS gerakan tanah, parameter kunci yang harus dipantau adalah curah hujan dan deformasi lereng. Namun, ambang batas peringatan tidak boleh disamakan antar wilayah karena perbedaan karakteristik geologi dan lingkungan yang ada.
Bagikan
Berita terkait
Faktor Pengontrol dan Pemicu Longsor, Tak Selalu Karena Hujan
JPNN.com · 29 September 2026 pukul 17.45
BPBD DKI Jakarta Keluarkan Peringatan Dini Potensi Longsor, Pramono Minta Warga Tetap Waspada
Warta Ekonomi · 15 September 2026 pukul 19.30
Andre Rosiade, Padang-Galapagos Perkuat Hulu Batang Kuranji dengan 60 Ribu Pohon
kumparan · 9 September 2026 pukul 21.15
Prakiraan Cuaca Jakarta Hari Ini 17 Agustus 2026: Cerah Berawan
Media Indonesia · 17 Agustus 2026 pukul 05.55