Jakarta · Selasa, 18 Agustus 2026Cari
WargaKonoha

Stunting Kubu Raya 30,2 Persen, Pencegahan Diperkuat

Prevalensi stunting di Kabupaten Kubu Raya mencapai 30,2% (SSGI 2024), lebih tinggi dari rata-rata Kalimantan Barat (26,8%) dan nasional (19,8%). Untuk menurunkannya, Program PASTI — kemitraan Kemenko PMK/BKKBN, Tanoto Foundation, PT Amman Mineral, dan BCA via Bakti BCA, diimplementasikan Wahana Visi Indonesia — mengembangkan empat desa model dengan pendekatan berbasis masyarakat. Intervensi meliputi Pos Gizi DASHAT (PGD) di 20 desa/kelurahan yang melayani 290 baduta dan 159 ibu hamil risiko KEK pada semester I 2026, pendampingan oleh 67 kader TPK (52 ikut penyegaran 2026), serta edukasi gizi dan pemanfaatan pangan lokal. Hasil monitoring 2025–semester I 2026 menunjukkan 1.188 orang tua dan ibu hamil menerima komunikasi, informasi, dan edukasi, dengan 95,7% (1.137 orang) memahami stunting dengan baik. Testimoni peserta PGD mencatat peningkatan berat badan anak hingga 800 gram.

Upaya diperluas ke remaja melalui 33 Duta GenRe yang mengedukasi 460 remaja 15–19 tahun tentang gizi dan anemia. Di tingkat desa, ketersediaan pangan ditingkatkan via kebun gizi (terong, kangkung, bayam, dll) dan budidaya ayam petelur (17–20 butir telur/hari). Tata kelola data diperkuat dengan pelatihan 46 perwakilan TPPS desa/kelurahan dan 4 TPPS kecamatan pada 2025. Michael Susanto (Tanoto Foundation) menegaskan krusialnya 1.000 HPK untuk perkembangan otak, sedangkan Nurizky Permanajati (Kemenko PMK) menyoroti peran remaja mencegah siklus stunting lintas generasi. Hotmianida Panjaitan (Program Manager PASTI) menambahkan faktor eksternal seperti akses pangan dan pernikahan anak juga penyebab.

Keberhasilan model di Kubu Raya diharapkan menjadi tolok ukur replikasi ke 27 desa model PASTI dan wilayah lain. Bupati Sujiwo menekankan pentingnya replikasi praktik terbukti agar penurunan stunting merata di seluruh kabupaten.

Berita terkait