Subak Bali, Kearifan Lokal Menjaga Sumber Air
Rangkuman otomatis · disusun dengan AI
Sistem Subak Bali bertahan berkat komitmen masyarakat terhadap tradisi leluhur. Pembagian air dilakukan secara adil, sementara keputusan soal waktu tanam, jenis tanaman, dan penyelesaian pelanggaran disepakati bersama anggota. Organisasi dipimpin pekaseh yang berperan sebagai koordinator keputusan, memastikan distribusi air sesuai kesepakatan, dan menjembatani kebutuhan petani dengan pemerintah serta pengelola sumber daya air lain.
Di Subak Pangkung Jajang, pekaseh Gede Riasa mengungkapkan keberhasilan tanam empat kali setahun baru tercapai pada empat hektare lahan. Target tahun 2026, luas tersebut ditambah empat hektare lagi dari total 35 hektare lahan Subak. Harapannya, lebih banyak anggota yang mampu menanam empat kali dalam setahun.
Pengalaman ini menunjukkan kearifan lokal dan teknologi modern dapat saling melengkapi. Teknologi memperkuat kapasitas petani, namun pengelolaan air tetap memerlukan kelembagaan masyarakat, aturan bersama, dan pembagian yang adil.
Bagikan
Berita terkait
Traktor Listrik Mulai Dipakai Petani di Bali, Pengolahan Lahan Lebih Cepat
Detik.com · 7 Agustus 2026 pukul 09.22
Pertamina Patra Niaga Salurkan Bantuan Alsintan Listrik untuk Petani
JPNN.com · 6 Agustus 2026 pukul 19.11
Pertamina Patra Niaga Salurkan Alsintan Listrik Dukung Pertanian di Bali
SINDOnews · 6 Agustus 2026 pukul 17.25
Batu Pulaki Sah Mengantongi Sertifikat Indikasi Geografis, Ini Keunggulannya
JPNN.com · 2 Agustus 2026 pukul 19.02