Jakarta · Selasa, 18 Agustus 2026Cari
WargaKonoha

Taktik China Menantang Dominasi Amerika

Pasca-konflik AS-Iran, Tiongkok mulai mendominasi global melalui strategi subtil. Senjata utama: Belt and Road Initiative (BRI), proyek infrastruktur masif di pelabuhan, jalur kereta api, dan jaringan digital. BRI bukan sekadar pembangunan, melainkan alat kedaulatan baru (Quasi-Sovereignty). Tiongkok menanamkan kendali atas ketergantungan ekonomi negara lain lewat infrastruktur, bukan dengan kekerasan militer. Kedaulatan abad ke-21 mengacu pada kontrol koridor logistik, rantai pasok, dan aliran finansial. Negara yang menguasai infrastruktur ini bisa mendikte aturan main global tanpa perlu militer. Rantai pasok direkayasa jadi senjata politik: Tiongkok bisa menghidupkan atau mencekik perekonomian sekawasan hanya dengan mengatur logistik.

Strategi militer Tiongkok mengedepankan 'active defense' dan Anti-Access/Area Denial (A2/AD). Sistem ini mencegah AS masuk bebas ke wilayah perairan vital melalui rudal balistik, kapal selam, pesawat tempur, dan sistem pertahanan udara. Tiongkok juga mendominasi electronic warfare, cyber, satelit, dan anti-satelit. Targetnya bukan musnahkan armada AS, tapi menciptakan zona bahaya sehingga kapal induk, pangkalan militer, dan jaringan komando AS merasa tidak aman beroperasi di wilayah Tiongkok.

Kekuatan sejati tidak diukur dari jumlah senjata, tapi dari kemampuan membangun perdamaian bersama. Tiongkok dan AS bersaing lewat adu strategi militer dan geo-ekonomi. Namun, kedaulatan tertinggi bukan milik satu negara, tapi milik perdamaian abadi yang didasari keadilan, kolaborasi, dan kasih kasih.

Diberitakan juga oleh


Berita terkait