Jakarta · Senin, 17 Agustus 2026Cari
WargaKonoha

Tetangga RI Darurat Kekerasan Militer, Warga Sipil Dibantai Massal

Kekerasan di Myanmar memburuk sejak perubahan kepemimpinan militer pada Maret 2026. Laporan dari Armed Conflict Location & Event Data Project (ACLED) menunjukkan peningkatan serangan terhadap warga sipil melalui operasi darat dan pengeboman udara yang lebih intensif. Hal ini terjadi setelah junta merombak struktur komando militer, dengan penggunaan jet tempur dalam kelompok kecil untuk serangan berkelanjutan terhadap target tunggal.

Dalam enam bulan pertama tahun 2026, ACLED mencatat lebih dari selusin pembunuhan massal yang menewaskan lebih dari 450 warga sipil. Sekitar 40% korban berasal dari wilayah kering Anyar di Myanmar tengah. Insiden mematikan termasuk operasi di Myit Chay pada Mei 2026, di mana sedikitnya 40 orang tewas. ACLED menilai pola operasi militer saat ini tidak mengurangi kekerasan, hanya mengubah cara represi terhadap warga sipil.

Di sisi politik, pemimpin kudeta Min Aung Hlaing beralih dari panglima militer menjadi presiden sipil pada April 2026, memfokuskan upaya memperkuat kontrol politik. Sementara itu, Myanmar meningkatkan aktivitas diplomatik dengan kunjungan ke India dan China serta upaya pendekatan kembali dengan ASEAN, termasuk rencana kunjungan Min Aung Hlaing ke Thailand pada Agustus 2026.

Berita terkait