Bukan dari Tahu, Perajin Kini Bertahan dari Penjualan Ampas dan Limbah Kedelai
Rangkuman otomatis · disusun dengan AI

Kenaikan harga kedelai impor dari AS hingga Rp 11.500 per kilogram membuat margin keuntungan perajin tahu semakin tipis. Sudiarto, perajin tahu sejak 1997 di Mampang Prapatan, Jakarta Selatan, mengeluarkan biaya produksi Rp 1,5 juta hingga Rp 1,55 juta per kuintal kedelai, sementara pendapatan dari penjualan 50 papan tahu hanya mencapai Rp 1,65 juta. Selisih yang sempit ini membuat usaha rawan kerugian jika terjadi kesalahan teknis.", "Karena produksi tahu tidak lagi menghasilkan keuntungan yang signifikan, Sudiarto beralih mengandalkan hasil sampingan berupa ampas tahu dan air limbah olahan kedelai. Setiap hari, pabriknya mengolah lima kuintal kedelai, menghasilkan 250 papan tahu dan 25 karung ampas tahu yang dijual Rp 10.000 per karung. Air sisa olahan juga dibeli peternak sapi perah untuk meningkatkan produksi susu. Kombinasi penjualan ampas dan air limbah menjadi kunci bertahan usaha di tengah kenaikan biaya bahan baku.
Bagikan
Berita terkait
OJK: Penghimpunan Dana Pasar Modal Capai Rp186 Triliun per September
JawaPos · 5 Oktober 2026 pukul 15.45
OJK Ambil Alih Pengawasan Bursa Mineral dari Bappebti, Ini Aturannya
CNBC Indonesia · 5 Oktober 2026 pukul 15.43
OJK Denda 136 Pihak di Pasar Modal Rp 112,79 M
Detik.com · 5 Oktober 2026 pukul 15.38
ETF Emas Terus Menggeliat, Dana Kelolaan Tumbuh 16,9% Jadi Rp 105,63 Miliar
kumparan · 5 Oktober 2026 pukul 15.37