Jakarta · Kamis, 3 September 2026Cari
WargaKonoha

Destry: BI tak cukup andalkan moneter hadapi global yang kompleks

Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti menyatakan kebijakan moneter saja tidak cukup untuk menghadapi tantangan ekonomi global yang kompleks. Menurutnya, negara-negara maju seperti AS dan Eropa masih dihadapkan pada inflasi tinggi sehingga peluang penurunan suku bunga semakin terbatas. Yield surat utang AS 10 tahun naik ke 4,5-4,6 persen, sementara indeks dolar AS (DXY) menguat dan pertumbuhan ekonomi AS melambat.

Situasi global yang "higher for longer" menyulitkan Indonesia hanya mengandalkan BI-Rate. Oleh karena itu, BI mengoptimalkan kebijakan makroprudensial untuk mendorong aliran modal asing dan mendukung pertumbuhan domestik. Giro wajib minimum (GWM) rupiah untuk bank konvensional efektif berada di level 9 persen, namun insentif telah mendorong penurunan GWM sehingga likuiditas dapat dialokasikan ke sektor prioritas.

Hingga awal Agustus 2026, total insentif Kebijakan Likuiditas Makroprudensial (KLM) mencapai Rp446,5 triliun atau 5,02 persen dari dana pihak ketiga (DPK). Untuk mengatasi segmentasi likuiditas, BI menambah insentif KLM Pendalaman Pasar Uang hingga 2 persen DPK bagi bank yang menjaga alokasi SBN dan SRBI non-repo di bawah 19 persen. Alokasi KLM financing channel dinaikkan menjadi maksimal 4 persen DPK, sehingga total insentif KLM mencapai 6 persen.

Diberitakan juga oleh


Berita terkait