Eks Wamenkumham Denny Indrayana Tiba-Tiba Ngomong 'Jika Saya Terbunuh, Datangilah Presiden', Ada Apa?
Rangkuman otomatis · disusun dengan AI

Eks Wakil Menteri Hukum Denny Indrayana menyoroti ketegangan politik di Filipina antara Presiden Ferdinand 'Bongbong' Marcos Jr dan Wakil Presiden Sara Duterte. Konflik mulai terbuka setelah Wakil Presiden Duterte menyatakan bahwa jika dirinya terbunuh, seorang presiden harus ditanggapi. Pernyataan ini memicu ketegangan dan dua proses impeachment telah dilakukan terhadap Duterte, dengan kemungkinan putusan akhir di akhir 2026.
Dalam proses hukum tersebut, terdapat empat dakwaan serius terhadap Wakil Presiden Duterte. Pertama, dugaan penyalahgunaan dana sebesar 612,5 juta peso di kantor Wakil Presiden dan Kementerian Pendidikan. Kedua, tuduhan korupsi terkait pelaporan kekayaan dan kegagalan divestasi. Ketiga, dugaan korupsi dalam pengadaan barang di Kementerian Pendidikan. Keempat, ancaman pembunuian terhadap Presiden, Ibu Negara, dan Ketua DPR.
Proses pemakzulan telah melewati DPR dan sekarang menunggu keputusan akhir dari Senat. Untuk berhasilnya pemakzulan, diperlukan persetujuan minimal 16 dari 24 anggota Senat Filipina.
Bagikan
Berita terkait
Update Sayembara Denny Indrayana, Gibran Diancam Akan Dimakzulkan Jika Tak Bisa Tunjukkan Ijazah SMA
Warta Ekonomi · 19 Agustus 2026 pukul 11.39
Sayembara Ijazah SMA Gibran Bernilai Rp5 Miliar, Denny Indrayana Diminta Buka Identitas Donaturnya
Warta Ekonomi · 26 Agustus 2026 pukul 11.33
Kalau Ijazah Gibran Bermasalah, Prabowo yang Repot, Kata PSI
Warta Ekonomi · 17 Agustus 2026 pukul 05.50
Getol Kulik Ijazah Gibran, Denny Indrayana Pernah Ditolak MK yang Dipimpin Sang Paman
Warta Ekonomi · 16 Agustus 2026 pukul 15.50