Eropa dan Asia Berebut Gas, Harga Diprediksi Tembus US$ 117
Rangkuman otomatis · disusun dengan AI
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/2222984/original/086046700_1526974624-1.jpg)
Persaingan antara Eropa dan Asia untuk mengamankan pasokan gas alam semakin ketat, terutama seiring kesulitan Eropa mengisi kembali cadangan gas menjelang musim dingin. Kontrak berjangka gas acuan Eropa, Dutch TTF, pernah mencapai level €68 per megawatt-jam, tertinggi sejak awal 2023. Analis memperkirakan harga gas berpotensi mencapai kisaran €90–€120 per megawatt-jam, atau sekitar US$ 117, jika musim dingin lebih dingin dari perkiraan dan pasokan tetap terbatas. Kenaikan harga diperlukan untuk menekan permintaan di Asia agar Eropa dapat menjaga cadangan cukup hingga akhir musim dingin. Gangguan pengiriman melalui Selat Hormuz dan cuaca ekstrem berperan besar dalam tekanan pasokan ini. Musim panas yang terik meningkatkan penggunaan energi untuk pendingin udara, sementara produksi listrik nuklai dan tenaga angin melemah akibat suhu tinggi. Akibatnya, tingkat penyimpanan gas di Uni Eropa hanya mencapai sekitar 63%, jauh di bawah rata-rata lima tahun sebelumnya.
Bagikan
Diberitakan juga oleh
CNN Indonesia · 27 Agustus 2026 pukul 16.51
IHSG Melambung 1,81 Persen ke 6.521 Sore Ini, 553 Saham Hijau
Berita terkait
IHSG Merah ke 6.501 Awali Pekan Ini
CNN Indonesia · 24 Agustus 2026 pukul 16.33
Iran Temukan 7,50 Triliun Kaki Kubik Gas Alam di Tengah Perang Melawan AS
SINDOnews · 24 Agustus 2026 pukul 07.05
China Targetkan Pasokan Migas Capai 440 Juta Ton Setara Minyak pada 2030
VOI · 21 Agustus 2026 pukul 18.25
Produksi Gas JTB Produksi Raw Gas Capai 298,24 MMSCFD
VOI · 20 Agustus 2026 pukul 08.41