FINI Tunggu Keputusan Pemerintah soal Formula HPM Limonit
Rangkuman otomatis · disusun dengan AI

Forum Industri Nikel Indonesia (FINI) masih menunggu keputusan pemerintah terkait usulan formula alternatif Harga Patokan Mineral (HPM) untuk bijih nikel limonit. Usulan ini bertujuan menyeimbangkan kepentingan penambang di hulu dan industri pengolahan di hilir, karena kenaikan HPM limonit dari US$16 menjadi US$40,18 per wet metric ton sejak April 2026 dianggap terlalu tinggi dan berpotensi merugikan sektor hilir. FINI tidak mengusulkan perubahan untuk bijih saprolit karena harganya sudah dekat dengan pasar.
Limonit menjadi fokus utama karena merupakan bahan baku utama teknologi High Pressure Acid Leach (HPAL) untuk produksi Mixed Hydroxide Precipitate (MHP) yang digunakan dalam pembuatan baterai kendaraan listrik. FINI menilai kesenjangan antara HPM dan kemampuan smelter menyerap bahan baku menciptakan tekanan bagi penambang yang tidak boleh menjual di bawah HPM dan smelter yang terpaksa membeli pada harga tinggi.
Di samping HPM nikel, tekanan biaya produksi MHP juga ditambah oleh kenaikan harga sulfur yang mencapai US$1.100-US$1.200 per ton dari sebelumnya US$250 per ton. Arif Perdana Kusumah menyatakan bahwa sulfur dan bijih nikel adalah dua komponen biaya terbesar dalam produksi MHP, dan tekanan harga ini belum mereda akibat konflik global yang masih berkelanjutan.
Bagikan
Berita terkait
Porsche Jual MHP ke TCS India, Fokus ke Bisnis Inti Otomotif
VOI · 25 Agustus 2026 pukul 15.45
Habis Akuisisi, Emiten RI Ini Kantongi Kontrak Nikel US$14 Juta
CNBC Indonesia · 20 Agustus 2026 pukul 09.45
Prabowo: Kita Punya Barang, Jangan Orang Lain yang Tentukan Harganya
Liputan6.com · 14 Agustus 2026 pukul 16.25
Harga Sulfur Melejit, Ini Strategi Vale Jaga Operasional Smelter
CNBC Indonesia · 14 Agustus 2026 pukul 15.00