Jakarta · Kamis, 20 Agustus 2026Cari
WargaKonoha

Gempa M7,7 Flores Bukan Efek Gelar Jokowi, Dede: Narasi Tak Berdasar

Gempa bumi magnitudo 7,7 di Flores, Nusa Tenggara Timur, pada 15 Agustus 2026 tidak berkaitan dengan penolakan gelar adat Sesepuh Raja-Raja Timor yang diberikan kepada Presiden Joko Widodo. Mantan Komisaris PT Pelni Dede Budhyarto menegaskan narasi mengaitkan gempa dengan isu politik atau supranatural tidak berdasar ilmiah. Menurutnya, gempa tersebut merupakan peristiwa tektonik murni akibat aktivitas Sesar Naik Busur Belakang Flores, serupa dengan gempa besar yang terjadi di wilayah itu pada 1992. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) juga menjelaskan bahwa gempa adalah gerakan lempeng bumi, bukan konsekuensi politik atau hukuman ilahi.

Berdasarkan analisis BMKG, gempa M7,7 dipicu oleh patahann aktif Flores Back-Arc Thrust dengan mekanisme pergerakan naik. Hiposenter berada pada kedalaman 10-15 kilometer di bawah permukaan laut, menyebabkan deformasi batuan signifikan di dasar laut dan memicu guncangan destruktif di darat serta gelombang tsunami di pesisir Flores.

Dede mengingatkan bahwa masyarakat di Flores, Manggarai, Nagekeo, dan sekitarnya kini membutuhkan bantuan nyata berupa logistik, tempat tinggal sementara, layanan kesehatan, dan pemulihan infrastruktur. Ribuan orang terdampak, puluhan meninggal, dan ratusan mengalami luka. Ia mendesak fokus pada aksi nyata daripada menghidupkan perdebatan politik atau supernatural, sekaligus menyampaikan bahwa dukungan masyarakat luas tetap sangat dibutuhkan meski pemerintah pusat sudah menurunkan bantuan dan membentuk posko.

Diberitakan juga oleh


Berita terkait