Hashim Klaim Industri Batu Bara di Indonesia Masih Punya Umur Panjang
Rangkuman otomatis · disusun dengan AI

Hashim Djojohadikusumo, Utusan Khusus Presiden bidang Iklim dan Energi, menyatakan bahwa industri batu bara di Indonesia masih memiliki masa depan yang panjang meski negeri ini berkomitmen mencapai target net zero emission pada 2060. Menurutnya, penggunaan batu bara untuk PLTU milik PLN dan IPP masih diperlukan untuk menjaga ketahanan energi nasional. Namun, teknologi carbon capture and storage (CCS) yang sedang dikembangkan mampu mengurangi emisi karbon hingga 90-95%, sehingga tidak perlu lagi memilih antara target iklim dan ketergantungan pada energi fosil.
Hashim mengungkapkan hal ini dalam The 4th International & Indonesia Carbon Capture and Storage (IICCS) Forum 2026 di Hotel Mulia, Jakarta. Ia mencontohkan uji coba CCS asal Jepang di Petrokimia Gresik yang berhasil mengurangi emisi hingga 95% serta menghasilkan abu soda sebagai produk sampingan. Teknologi ini menggunakan gas alami sebagai bahan bakunya, namun batu bara juga dapat digunakan.
Selain mengurangi emisi, teknologi CCS juga menciptakan peluang ekonomi baru. Hasil uji coba tersebut menghasilkan abu soda yang saat ini masih diimpor Indonesia. Beberapa perusahaan Jepang tertarik mengambil dan mengekspor komoditas ini ke negara lain.
Bagikan
Diberitakan juga oleh
CNBC Indonesia · 26 Agustus 2026 pukul 12.25
Adik Prabowo Mau Sulap CO2 Jadi Aset Bernilai Tinggi
Berita terkait
Iklim Jadi Masalah Pelik di RI, Transisi Energi Wajib Jalan Terus
CNBC Indonesia · 22 Agustus 2026 pukul 09.00
Kenapa Tambang Baru Batu Bara Muncul saat Izin Besar Habis? Simak!
JawaPos · 18 Agustus 2026 pukul 15.15
Harga Batu Bara RI (HBA) Periode Kedua Agustus 2026 Rata-Rata Naik!
CNBC Indonesia · 18 Agustus 2026 pukul 10.15
RI Berlimpah Batu Bara, Tapi Hilirisasinya Belum Terealisasi
CNBC Indonesia · 13 Agustus 2026 pukul 19.50