Jakarta · Selasa, 18 Agustus 2026Cari
WargaKonoha

Hilirisasi Batu Bara Modal Besar Tapi Profit Minim, BKPM Cari Teknologi Murah

Kementerian Investasi dan Hilirisasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) menyatakan bahwa pengembangan hilirisasi batu bara menghadapi tantangan besar karena nilai tambah yang dihasilkan tidak setinggi komoditas mineral seperti nikel atau bauksit. Proyek hilirisasi batu bara membutuhkan investasi besar dengan tingkat keuntungan yang lebih rendah. Direktur Hilirisasi Mineral dan Batu Bara BKPM, Rizwan Aryadi Ramadhan, menjelaskan bahwa nilai tambah produk turunan batu bara tidak lebih dari 10 kali lipat dari batu baranya sendiri.

Salah satu contoh adalah proyek gasifikasi batu bara menjadi metanol yang diperkirakan membutuhkan investasi mencapai US$ 2,3 miliar. Besarnya modal yang diperlukan mendorong pemerintah untuk mencari teknologi yang lebih efisien dan murah agar proyek hilirisasi batu bara memiliki nilai komersial yang lebih tinggi. Rizwan menekankan bahwa usaha yang terlalu besar dibandingkan keuntungan memerlukan solusi teknologi yang tepat.

Meskipun demikian, beberapa negara sudah menunjukkan minat untuk berinvestasi dalam proyek hilirisasi batu bara. Selain proyek metanol, pemerintah juga akan mengawal rencana investasi proyek dimethyl ether (DME) sebagai bukti bahwa industrialisasi batu bara layak secara komersial. Harapannya, proyek-proyek ini dapat menunjukkan nilai komersial yang lebih baik dari sebelumnya.

Berita terkait