India Terus Beli Minyak dari Rusia, Kini Terancam Kena Tarif 100% oleh Trump
Rangkuman otomatis · disusun dengan AI

Dewan Perwakilan Rakyat AS telah menyetujui rancangan undang-undang yang memberi Presiden Donald Trump kewenangan untuk memberlakukan sanksi dan tarif hingga 100 persen terhadap negara yang membeli minyak dan gas dari Rusia. Kebijakan ini secara langsung menargetkan India dan China, yang menjadi dua negara pembeli minyak mentah Rusia terbesar di dunia. Pada tahun fiskal 2026, Rusia menyumbang 30,3 perselisihan impor minyak mentah India dengan nilai USD 40,8 miliar dari total impor sebesar USD 134,7 miliar. India bergantung pada impor lebih dari 88 persen kebutuhan minyak mentahnya, dan pada Juli 2026, lebih dari setengah impornya berasal dari Rusia. Menurut Centre for Research on Energy and Clean Air (CREA), pada periode Desember 2022 hingga Agustus 2026, China menyumbang 50 persen ekspor minyak mentah Rusia, sementara India menyumbang 37 persen. Ancaman ini muncul di tengah negosiasi perdagangan bilateral antara India dan AS yang sudah hampir selesai, sehingga diperkirakan akan mempengaruhi posisi tawar India dalam perundingan tersebut. Pemerintah India menyatakan telah membahas isu ini dengan pihak AS dan tetap berkomitmen pada ketahanan energi nasional. Namun, penggantian pasokan minyak Rusia dengan alternatif lain berpotensi meningkatkan biaya impor secara signifikan. S&P Global memperkirakan bahwa pasokan alternatif akan menambah biaya pengangkutan, asuransi, dan harga minyak mentah. India juga menghadapi keterbatasan dalam cadangan minyak strategis, yang hanya mampu memenuhi 9–10 hari kebutuhan impor, jauh di bawah tingkat Jepang (200 hari) dan Korea Selatan (207 hari). Sejak beralih ke minyak Rusia pada 2022, India telah menghemat sekitar USD 12,6 miliar, namun kebijakan baru ini dapat mengubah penghematan tersebut menjadi beban tambahan. Kementerian Perdagangan AS mencatat bahwa nilai perdagangan total antara kedua negara mencapai USD 240 miliar pada 2025, dengan AS mengimpor barang senilai USD 104 miliar dari India. Produk ekspor India ke AS mencakup elektronik, obat-obat, mesin, dan tekstil. Tarif baru ini muncul setelah Trump sebelumnya mengenakan tarif hingga 50 persen pada 2025 sebelum menurunkannya. India kini harus menyeimbangkan antara keuntungan ekonomi dari pembelian minyak Rusia dan risiko yang ditimbulkan terhadap ekspornya ke AS.
Bagikan
Diberitakan juga oleh
JawaPos · 18 September 2026 pukul 15.30
Dorong Kelancaran Arus Perdagangan Dunia, Indonesia Hadiri Forum BRICS 2026 di India
Liputan6.com · 18 September 2026 pukul 06.54
Bahlil Bakal Impor Minyak Mentah dengan Harga Murah
Media Indonesia · 17 September 2026 pukul 20.58
Bahlil: Pasokan Minyak Mentah Nasional Aman, Termasuk dari Rusia
Berita terkait
Perdagangan BRICS US$1,2 Triliun, CORE: Sulit Jadi Daya Tawar Tekanan AS
Media Indonesia · 14 September 2026 pukul 13.13
Modi Beri Saran ke Putin soal Cara Mengakhiri Perang
Media Indonesia · 11 September 2026 pukul 23.15
Rusia-Korea Utara Resmikan Jembatan Darat Pertama, Perkuat Jalur Perdagangan dan Aliansi
Media Indonesia · 8 September 2026 pukul 07.00
Ketua DPD Puji Diplomasi Prabowo di Eastern Economic Forum Rusia
Detik.com · 4 September 2026 pukul 21.21