Industri Petrokimia Masih Bergantung Bahan Baku Impor
Rangkuman otomatis · disusun dengan AI
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3650016/original/006610000_1638373803-WhatsApp_Image_2021-12-01_at_18.32.42.jpeg)
Industri petrokimia Indonesia masih bergantung pada bahan baku impor seperti nafta, yang saat ini belum dapat diproduksi secara domestik dalam jangka pendek. Menurut peneliti CITI INDEF, Ahmad Heri Firdaus, penguatan kapasitas produksi dalam negeri menjadi prioritas untuk mengurangi kerentanan terhadap volatilitas harga komoditas global. Pengembangan sektor petrokimia membutuhkan investasi besar di sektor hulu, infrastruktur, tenaga kerja, dan pasokan energi. Pemerintah tidak dapat hanya mengandalkan insentif fiskal; diperlukan ekosistem industri dengan skala produksi besar agar operasional efisien. Ketergantungan impor meningkatkan biaya produksi dan dapat menekan daya beli masyarat.
Bagikan
Berita terkait
Tiga Tahun Beroperasi, LRT Jabodebek Layani 75,9 Juta Pelanggan
VOI · 28 Agustus 2026 pukul 19.28
Pro-Kontra MBG Jadi Penyeimbang dan Evaluasi Positif Program
JPNN.com · 28 Agustus 2026 pukul 19.13
Prabowo Terima Ramos-Horta dan 20 Peraih Nobel di Istana Merdeka
Media Indonesia · 28 Agustus 2026 pukul 18.59
Bos Pengusaha Bilang Pabrik Makanan Hadapi Harga-Harga Naik Luar Biasa
CNBC Indonesia · 28 Agustus 2026 pukul 17.50