Investasi AI Meningkat, Banyak Perusahaan Belum Rasakan Dampak Bisnis
Rangkuman otomatis · disusun dengan AI
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4461777/original/028802500_1686500112-16268340_rm373batch5-banner-08.jpg)
Investasi kecerdasan buatan (AI) di Asia Tenggara terus meningkat, namun banyak perusahaan belum merasakan dampak bisnis signifikan. Laporan McKinsey dan Singapore EDB (Februari 2026) mencatat lebih dari 60% perusahaan mengalokasikan 11–40% anggaran teknologi untuk AI, tetapi sekitar 60% hanya mencatat dampak terhadap EBIT di bawah 5%, dan hampir satu dari lima perusahaan belum mendapat manfaat finansial. CEO Pesat.AI, Nell VH, menilai implementasi masih terbatas pada proyek uji coba dan belum terintegrasi ke proses bisnis. PwC memproyeksikan AI dapat berkontribusi hingga US$ 366 miliar bagi ekonomi Indonesia pada 2030 jika diterapkan efektif.
Di sisi lain, Amazon mengumumkan PHK sekitar 14.000 karyawan korporat untuk menjadi lebih ramping dan berinvestasi di AI generatif. Langkah ini merupakan bagian dari efisiensi biaya sejak 2022, dengan total lebih dari 27.000 karyawan dipangkas. Hingga Oktober 2025, lebih dari 200 perusahaan teknologi global telah memberhentikan sekitar 98.000 karyawan, termasuk Microsoft, Meta, Google, dan Salesforce, dengan alasan efisiensi dan adopsi AI.
Bagikan
Berita terkait
Bandara Soekarno-Hatta Layani 25,9 Juta Penumpang, Tersibuk Kedua di Asia Tenggara
Liputan6.com · 7 Agustus 2026 pukul 15.11
Malware GoSerpent Bidik Lembaga Pemerintah dan Diplomatik di Asia Tenggara, Ini Modusnya
JawaPos · 5 Agustus 2026 pukul 18.07
Piala AFF Tak Pernah Bersahabat, Timnas Indonesia Lagi-Lagi Kesulitan Hadapi Vietnam
JPNN.com · 4 Agustus 2026 pukul 03.30
Pasar AS Masih Bergejolak, AI Tak Lagi Jadi Jaminan Saham Naik
CNBC Indonesia · 3 Agustus 2026 pukul 17.30