Investasi Hulu Migas Masih Berpeluang Tumbuh, Kepastian Kebijakan Kuncinya
Rangkuman otomatis · disusun dengan AI
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/2223008/original/010261700_1526974987-1.jpg)
Investasi hulu migas Indonesia masih memiliki potensi besar, dengan nilai tahun 2025 mencapai US$15 miliar (Rp276 triliun). Pemerintah menunjukkan dukungan melalui penyempurnaan kebijakan dan fleksibilitas skema kontrak. Direktur Keuangan PHE Bayu Kusuma Dewanto menyatakan pelaku usaha tertarik meningkatkan investasi, dengan rencana PHE meningkatkan belanja investasi 1,5 kali lipat dibanding 2025. Fokus pengembangan meliputi enhanced oil recovery (EOR) berbasis chemical dan migas non-konvensional seperti proyek Rokan MNK. Dari 128 cekungan, sekitar separuh belum dieksplorasi, namun investasi eksplorasi memiliki karakteristik jangka panjang dan berisiko tinggi. Kepastian regulasi dan kebijakan menjadi faktor kunci dalam menentukan keputusan investasi. Pengamat Pri Agung Rakhmanto menilai iklim investasi hulu migas Indonesia dalam lima tahun terakhir membaik setelah reformasi kontrak pasca-gross split, dengan Indonesia tetap berada dalam daftar negara menarik di Asia Pasifik. Namun, ketidakpastian UU Migas, DMO, serta tekanan fiskal menjadi tantangan yang di luar jangkauan regulator sektor hulu.
Bagikan
Berita terkait
Peningkatan Daya Saing Investasi Hulu Migas Butuh Sinergi Pemerintah dan Pelaku Usaha
JawaPos · 18 September 2026 pukul 14.00
Gerakan Penolakan Data Center Meluas, Muncul di Seluruh Dunia
CNBC Indonesia · 6 Oktober 2026 pukul 21.00
Danantara investasi 250 juta dolar AS ke perusahaan migas AS HighPeak
ANTARA News · 6 Oktober 2026 pukul 20.35
Perkuat Portofolio Migas Global, EMP Investasi Rp3,6 Triliun di HighPeak Energy
SINDOnews · 6 Oktober 2026 pukul 20.30