Jakarta · Selasa, 1 September 2026Cari
WargaKonoha

Karhutla Membakar Lahan, Negara Menghitung Biaya: Seberapa Efisien OMC?

Kebakaran lahan dan hutan di Indonesia, termasuk di Sumatera Selatan dan Kalimantan, telah berlangsung lama dan menimbulkan asap haze yang mengganggu kesehatan warga. Pemerintah dan berbagai lembaga seperti Kementerian Kehutanan, TNI, Polri, dan BRIN berupaya memadamkan kebakaran, termasuk mengembangkan teknologi baru seperti bahan semai garam mikro (Dumakron) dan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC). Namun, pertanyaan muncul mengapa teknologi yang sudah matang belum segera diterapkan saat kebakaran masih aktif.

OMC membutuhkan biaya operasional yang tinggi, diperkirakan antara Rp200 juta hingga Rp300 juta per sortie penerbangan. Operasi di Kalimantan pada Agustus 2026 melibatkan 22 sortie, dengan biaya kumulatif mencapai Rp4,4 miliar hingga Rp6,6 miliar. Dari operasi tersebut, diperkirakan curah hujan yang dihasilkan mencapai 15,72 juta meter kubik, sehingga rasio biaya per meter kubik air hujan berkisar antara Rp280 hingga Rp420.

BRIN mengembangkan Dumakron, bahan semai berupa natrium klorida (NaCl) dengan partikel mikro berukuran 2–5 mikrometer yang dapat disebarkan menggunakan drone. Dengan ukuran yang lebih kecil, luas permukaan garam meningkat hingga 500 kali lipat, sehingga potensinya lebih efisien dibandingkan garam kasar yang disemprotkan oleh pesawat. Namun, efisiensi ini perlu diuji secara lapangan untuk memastikan penghematan biaya yang signifikan dibandingkan penggunaan pesawat konvensional.

Diberitakan juga oleh


Berita terkait