Luhut: Dulu Ditertawakan karena Larangan Ekspor Nikel, Sekarang Banyak yang Mau Investasi
Rangkuman otomatis · disusun dengan AI
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9318627/original/058249400_1786114718-IMG_2761.jpeg)
Ketua Dewan Ekonomi Nasional Luhut Binsar Pandjaitan mengingat masa-masa sulit penerapan larangan ekspor bijih nikel yang dulu menuai kritik dan bahkan digugat ke WTO. Namun, kebijakan hilirisasi mineral kini mulai menunjukkan hasil nyata. Menuruh Luhut, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia berhasil membuktikan bahwa Indonesia mampu mengembangkan industri pengolahan nikel di dalam negeri. Dulu banyak yang menertawakan kebijakan tersebut, namun kini justru ada pihak asing yang ingin bertemu dan mengajukan investasi.
Luhut menyatakan bahwa hasil hilirisasi dapat dilihat dari data, bukan sekadar retorika. Ekspor produk nikel melonjak berlipat ganda, sementara kawasan seperti Morowali dan Halmahera Tengah yang dulu tidak tercatat dalam peta ekonomi nasional kini tumbuh dua digit dan menjadi bagian dari rantai pasok global.
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menceritakan proses pembuatan kebijakan larangan ekspor bijih nikel dalam buku pertamanya. Kebijakan ini berawal dari arahan Presiden Joko Widodo dan disetujui setelah konsultasi dengan Sekretaris Negara dan Sekretaris Kabinet. Keputusan untuk menghentikan ekspor nikel mulai 1 November sempat memicu demonstrasi selama satu setengah bulan, namun Bahlil tetap menemui para demonstran dan mempertahankan kebijakan.
Bagikan
Diberitakan juga oleh
Detik.com · 7 Agustus 2026 pukul 21.12
Bahlil Puji Luhut Mentornya: Ada Saat Dia Menekan, Ada Saat Dia Sayang-sayang Saya
Berita terkait
Bahlil Sebut 10 Bukunya Bisa jadi Sumber Inspirasi Anak Muda
Liputan6.com · 8 Agustus 2026 pukul 13.49
Bahlil: Pabrik Baterai LG dan CATL Tinggal Tunggu Peresmian Presiden
Liputan6.com · 3 Agustus 2026 pukul 20.10
Sambut Hari Kemerdekaan, Luhut Bicara Fundamental Ekonomi RI Baik
Detik.com · 17 Agustus 2026 pukul 11.55
Vale Punya 3 Megaproyek Smelter Rp155 Triliun, Ini Kabar Terbarunya
CNBC Indonesia · 13 Agustus 2026 pukul 19.05