Weda Bay-Harita dan Jejak Karbon di Balik Ledakan Hilirisasi Nikel RI
Rangkuman otomatis · disusun dengan AI

Hilirisasi nikel Indonesia meningkatkan posisi global dalam rantai pasok baterai kendaraan listrik, namun memicu lonjakan emisi karbon. Industri ini sangat bergantung pada pembangkit listrik captive berbasis batu bara, dengan estimasi konsumsi mencapai 81 TWh pada 2025. Ember memprediksi pembangkit captive fosil secara total akan menghasilkan 135 juta ton CO2 pada tahun yang sama.
Kawasan industri besar seperti IWIP di Halmahera Tengah dan operasional Harita Nickel di Pulau Obi menjadi pusat konsumsi energi tinggi. Ketergantungan pada batu bara ini mengancam daya saing global Indonesia, terutama dengan adanya regulasi seperti Carbon Border Adjustment Mechanism (CBAM) Uni Eropa. Selain isu lingkungan, pertumbuhan ekonomi tinggi di wilayah seperti Morowali belum berbanding lurus dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat lokal.
Bagikan
Berita terkait
Rupiah Kian Terjepit, Yield AS Melonjak ke 5,2%
Warta Ekonomi · 25 September 2026 pukul 14.14
Ditanya Soal Keraguan Publik Usai Gantikan Purbaya, Ini Kata Suahasil
Warta Ekonomi · 25 September 2026 pukul 13.30
Rupiah Dibuka Melemah ke Rp17.935, Pasar Masih Cermati Harga Minyak Dunia
Warta Ekonomi · 25 September 2026 pukul 09.16
Belanja Negara 2027 Tembus Rp 4.000 Triliun, Pertama Kali dalam Sejarah
Liputan6.com · 25 September 2026 pukul 06.50