Jakarta · Senin, 31 Agustus 2026Cari
WargaKonoha

Luhut Ungkap Fakta Pahit! Sebut Era AI Bikin Upah Buruh Murah Tak Lagi Laku Jadi Magnet Investasi

Ketua Dewan Ekonomi Nasional Luhut Binsar Pandjaitan menyatakan bahwa perkembangan kecerdasan buatan (AI) telah mengubah faktor utama yang menentukan daya saing ekonomi dan investasi global. Menurutnya, Indonesia tidak dapat lagi mengandalkan upah buruh murah sebagai daya tarik utama untuk mendatangkan investasi. Pada masa sebelumnya, biaya tenaga kerja menjadi pertimbangan utama dalam menarik industri manufaktur, namun kini faktor seperti chip, ketersediaan listrik, pusat data, komputasi, dan talenta digital semakin menentukan.

Luhut menjelaskan bahwa perubahan ini menuntut strategi pembangunan yang bergeser dari fokus pada jumlah tenaga kerja ke peningkatan produktivitas. Bonus demografi tidak otomatis menjadi keunggulan ekonomi jika tidak diiringi dengan peningkatan produktivitas. Oleh karena itu, pemerintah perlu mengkaji kembali asumsi pembangunan nasional, termasuk dalam konteks kenaikan inflasi dan suku bunga di Amerika Serikat.

Dalam paparannya, Luhut memaparkan bahwa rantai nilai AI terdiri dari lima lapisan: semikonduktor dan manufaktur, energi dan pusat data, komputasi dan cloud, model dan data, hingga adopsi dan difusi AI. Indonesia tidak perlu menguasai seluruh rantai nilai tersebut, tetapi perlu memilih bagian yang sesuai dengan keunggulan dan potensi ekonomi besar. Salah satu bidang yang dapat dikembangkan adalah pusat data berbasis energi hijau, dengan memanfaatkan potensi PLTA di Kalimantan Utara yang mencapai sekitar 8 gigawatt.

Diberitakan juga oleh


Berita terkait