Masyarakat Masih Enggan Pakai Asuransi Kredit Pinjol, Harga Premi Dinilai Kemahalan
Rangkuman otomatis · disusun dengan AI

Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI) menilai biaya premi asuransi kredit pada industri pinjaman daring (pindar) masih terlalu tinggi, sehingga membuat lender enggan menggunakan skema perlindungan ini. Ketua Umum AFPI Entjik S. Djafar menyatakan bahwa asuransi kredit memang sudah tersedia dan digunakan, namun biaya premi yang tinggi menjadi pertimbangan utama lender sebelum mengambil keputusan untuk menerapkannya. Akibatnya, penggunaan asuransi kredit di industri pindar masih bersifat opsional, dengan lender memiliki kebebasan untuk menentukan apakah akan menggabungkan asuransi dalam penyaluran pinjaman. AFPI berharap biaya premi asuransi dapat ditekan agar lebih terjangkau, sehingga lender lebih termotivasi untuk menggunakan perlindungan risiko tersebut. Entjik menekankan pentingnya premi yang rendah agar skema asuransi dapat lebih mudah diterapkan di industri. Saat ini, pertumbuhan pinjaman daring di Indonesia mencapai 24,76%, dengan total utang mencapai Rp105,63 triliun, menunjukkan potensi pasar yang signifikan namun tetap membutuhkan solusi perlindungan yang lebih terjangkau.
Bagikan
Berita terkait
Rugikan Peminjam, Skema Tadpole Pindar jadi Sorotan
Warta Ekonomi · 7 September 2026 pukul 13.44
Kontribusi Pinjaman Daring untuk UMKM Meningkat Capai Rp35,12 Triliun
Media Indonesia · 21 Agustus 2026 pukul 16.26
16 Pindar Kredit Macetnya Tinggi, OJK Ingatkan Risiko Ini
CNBC Indonesia · 18 Agustus 2026 pukul 21.20
Setelah BCA dan BRI, Ultra Voucher Perluas Akses ke EDC Bank Lain
Warta Ekonomi · 10 September 2026 pukul 19.49