Jakarta · Senin, 17 Agustus 2026Cari
WargaKonoha

Menanti Inklusifitas Angka Pertumbuhan Ekonomi

Badan Pusat Statistik (BPS) merilis pertumbuhan ekonomi Indonesia pada Kuartal II 2026 sebesar 5,29%, turun dari 5,61% pada kuartal sebelumnya. Pertumbuhan ini didorong oleh lima lapangan usaha: industri pengolahan, pertanian, perdagangan, konstruksi, dan pertambangan, yang secara bersama-sama menyumbang 63,73% dari total PDB. Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS, Edy Mahmud, menjelaskan kontribusi signifikan kelima sektor tersebut terhadap perekonomian nasional.

Bendahara Negara Purbaya Yudhi Sadewa menilai pertumbuhan 5,29% cukup baik mengingat tekanan geopolitik dan ketidakpastian harga minyak dunia yang mengganggu ekspor. Pada April hingga Juni 2026, harga minyak yang tinggi akibat konflik di Timur Tengah berdampak negatif pada performa ekspor nasional. Meski demikian, pemerintah tetap berupaya mempertahankan pertumbuhan ekonomi di tengah kondisi global yang tidak menentu.

BPS juga mengungkapkan penurunan jumlah penduduk miskin hingga 22,93 juta orang (8,07% dari total penduduk) per Maret 2026, turun 430 ribu orang dibanding September 2025. Penurunan terdalam terjadi di Pulau Jawa, yakni sebesar 0,21%. Namun, meski pertumbuhan ekonomi tercatat positif, masih terlihat ketimpangan sosial yang signifikan, seperti PHK dan dominasi sektor kerja informal di kalangan masyarakat.

Diberitakan juga oleh


Berita terkait