Jakarta · Selasa, 22 September 2026Cari
WargaKonoha

Pasar Karbon hingga Ketahanan Pangan Jadi Perhatian, Ada Peluang Ekonomi

Pasar karbon dan ketahanan pangan menjadi fokus utama dalam transformasi ekonomi berkelanjutan. Bonn Choi dari Korea Research Institute on Climate Change (KRIC) menekankan bahwa penerapan Artikel 6 Perjanjian Paris membuka peluang pengembangan mekanisme pasar karbon, yang dapat menghasilkan pengurangan emisi dengan nilai ekonomi melalui transaksi perdagangan karbon. Indonesia memiliki potensi proyek pengurangan emisi di sektor energi, efisiensi energi rumah tangga, pengelolaan limbah, pertanian berkelanjutan, kehutanan, hingga teknologi CCS/CCUS. Pengembangan pasar karbon perlu didukung dengan identifikasi sektor prioritas, regulasi, dan integrasi ke dalam Emissions Trading System (ETS). Sementara itu, ketahanan pangan menghadapi berbagai tantangan seperti perubahan iklim, dinamika ekonomi global, gejolak harga pangan, bencana alam, dan penyusutan lahan produktif. Ridky Irfan Wirautama dari Kementerian Koordinator Bidang Pangan menyatakan bahwa inovasi menjadi solusi kunci, seperti transformasi pengelolaan sampah menjadi energi listrik. Pemerintah juga memperluas penerapan ekonomi sirkular pangan dan mengembangkan ekonomi biru di wilayah pesisah. Pengembangan pelabuhan hijau dan cerdas (green and smart port) dilakukan dengan memadukan digitalisasi, tata kelola modern, budaya ASRI, dan prinsip 3R. Pada 2026, Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) diproyeksikan menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru di pesisah yang mengintegrasikan rantai nilai dari hulu ke hilir. Penguatan ketahanan pangan membutuhkan kerja sama lintas sektor dan penyelarasan kebijakan agar rantai pasok dan logistik pangan dapat menjangkau seluruh wilayah Indonesia.

Berita terkait