Jakarta · Minggu, 16 Agustus 2026Cari
WargaKonoha

Penertiban Tambang Ilegal Jadi Katalis Produksi dan Kinerja TINS

Penertiban tambang timah ilegal di Bangka Belitung menjadi katalis bagi PT Timah Tbk (TINS) untuk memulihkan produksi. Pemerintah berupaya menutup sekitar 1.000 tambang ilegal, sementara sektor tambang bayangan diperkirakan mencapai 80% dari total produksi timah di pulau tersebut. Aktivitas ilegal ini sebelumnya menekan produksi TINS, yang turun 32% secara tahunan pada semester I-2025 hingga 6.997 ton bijih timah. Dengan penegakan hukum yang lebih ketat, pasokan bijih yang sebelumnya tidak resmi berpeluang kembali ke rantai pasok resmi, membuka ruang bagi TINS untuk meningkatkan produksi dan penjualan. Pada semester I-2026, TINS mencatatkan pemulihan signifikan. Produksi bijih timah mencapai 12.232 ton, naik 75% dari periode sebelumnya. Produksi logam timah mencapai 10.865 metrik ton, sementara penjualan mencapai 10.984 metrik ton, melonjak 85% dari 5.933 metrik ton. Kenaikan ini mendorong pendapatan sebesar Rp10,42 triliun, naik 147% dari Rp4,22 triliun, dan laba bersih mencapai Rp2,71 triliun, melonjak 805% dari Rp300 miliar. Realisasi laba sudah mencapai 169% dari target tahunan TINS. Kinerja ini didukung oleh harga timah yang tinggi di London Metal Exchange (LME), mencapai US$50.319 per metrik ton, naik 56,7% dari periode sebelumnya. Kapitalisasi pasar TINS juga mengalami lonjakan drastis, dari Rp7,6 triliun pada Agustus 2025 menjadi Rp28,75 triliun pada Agustus 2026. Analis Hans Kwee menilai prospek TINS tetap kuat dengan rekomendasi beli dan target harga Rp4.700-Rp5.000 per saham, didukung oleh PER yang relatif rendah sekitar 4,49 kali dan ROE yang tinggi mencapai 51%.", "tags": ["tins", "timah", "pasar modal", "produksi", "penertiban ilegal"]}</arg_value></tool_call>

Berita terkait