Pengusaha Buka-bukaan Industri Tekstil RI Kalah dari Vietnam-Kamboja
Rangkuman otomatis · disusun dengan AI

Industri tekstil Indonesia kini tertinggal dari Vietnam dan Kamboja, bahkan di bawah kontribusi Kamboja di pasar ASEAN. Pada 2000, industri ini pernah unggul dari China, namun kini produksinya hanya mencapai 20 persen dibanding Vietnam. Bob Azam dari Apido menyoroti penurunan ini dan menekankan pentingnya perbaikan regulasi perburuhan agar industri bisa kembali menarik investasi asing. Pemerintah Prabowo Subianto tengah merencanakan insentif pajak seperti pembebasan PPN untuk perusahaan tekstil ekspor yang menggunakan tenaga outsourcing. Namun, Bob menegaskan insentif semata tidak cukup; perbaikan struktural di sektor regulasi dan ketenagakerjaan diperlukan untuk solusi jangka panjang.
Untuk mendukung pemulihan industri, Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartarto menyampaikan langkah-langkah yang sedang digodokkan pemerintah. Di antaranya adalah penguatan pasokan bahan baku, harmonisasi tarif kebijakan, penertiban impor barang ilegal, fleksibilitas ketenagakerjaan melalui PKWT, serta insentif fiskal lain seperti tax holiday. Pemerintah juga melibatkan perbankan untuk pembiayaan modal kerja dan reinvestasi.
Industri tekstil tetap penting bagi perekonomian Indonesia, menyumbang 0,97 persen PDB, menyerap sekitar 4 juta tenaga kerja, dan mencapai nilai ekspor US$12 miliar. Dengan dukungan kebijakan yang tepat, pemerintah berupaya memulihkan kompetitivitas industri yang dulunya unggul di kancah internasional.
Bagikan
Berita terkait
Prabowo Minta Syarat Bahan Baku Tekstil Ditinjau, Barang Impor Ilegal Ditindak
Liputan6.com · 22 September 2026 pukul 22.00
Prabowo Keluarkan Titah Baru, Sorot Sertifikasi Halal-Balpres Ilegal
CNBC Indonesia · 22 September 2026 pukul 19.45
Prabowo Minta Bea Cukai Tertibkan Impor Kiloan dan Balpres
kumparan · 22 September 2026 pukul 18.29
Gelar Rapat Terbatas, Prabowo Beri Tugas Khusus Dirjen Bea Cukai Djaka
CNBC Indonesia · 22 September 2026 pukul 18.25